Bernas.id – Namanya Waginem, sosok wanita lansia yang masih bekerja keras untuk keberlangsungan hidupnya. Usianya terbilang senja, 70 tahun. Kematian suaminya sejak puluhan tahun lalu, serta anak-anak yang merantau keluar kota menuntutnya untuk terus berusaha sendiri dalam menafkahi kebutuhan diri sendiri. ?Bapak sampun seda (suami meninggal dunia), anak-anak sampun misah (merantau) dateng luar Yogya, nggih pripun malih (mau bagaimana lagi),” ucap Waginem pasrah dalam Bahasa Jawa sembari mempersiapkan koran dan majalah yang akan dijajakan(19/11).
Waktu keseharian Waginem diisi dengan menjajakan koran di lampu merah perempatan Demangan, Jogja. Modalnya bekerja, karung bekas sebagai alas duduk di bahu jalan, yang juga sekalian untuk alas menggelar koran-koran dagangannya. Topi merah usang seadanya yang tak seberapa bagus, tak lupa ia kenakan untuk melindungi kepala dari panasnya terik siang Jogja. Inilah ciri khas Waginem, wanita tua renta yang hidup sebatang kara dengan pekerjaannya berjualan koran untuk menyambung hidup di masa tuanya.
Pukul 5 pagi, Waginem telah berangkat dari rumahnya dari Kota Baru menuju perempatan Demangan. Transportasi becak dipilihnya karena lebih merakyat dan ramah lingkungan, meski transportasi umum modern yang lebih cepat sudah banyak tersedia saat ini. Selama belasan tahun tukang sejumlah becak menjadi langganannya untuk antar-jemput Waginem. Setelah pukul 5 sore, Waginem akan membereskan korannya, lalu beranjak pulang.
Koran yang dijual berkisar Rp 2000 – 3000,- seperti Harian Bernas, Harian Jogja, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan lain-lain. Tabloid dan majalah berkisar Rp 8000 – 10000,- seperti tabloid Pulsa, Femina, Zahra, Nova. Keuntungan bersih yang tak seberapa ia dapatkan. Berbekal modal seadanya, tak menghambat niat kerja Waginem. Tak loyo seperti anak muda sekarang ini, mengeluh jika gaji tak sesuai ekspektasi. Keriput wajah yang tampak menjadi saksi hidup kerasnya perjuangan Waginem. Ucapan syukur yang terlontar dari bibirnya atas apa yang didapatkan setelah menjajakan koran, terus menimbulkan kekuatan baru bagi dirinya. ?Nggih cukup mba, kangge sedinten,? ucap Waginem dengan sorot mata bersyukur.
Berjualan koran dipilihnya karena ia tak mempunyai cukup modal untuk membuka usaha atau sekedar berjualan produk lain. Dahulu berjualan koran menjadi pekerjaan impian yang memang ia inginkan. Ia pernah merasakan masa larisnya pesanan langganan koran dari konsumen karena minat baca yang tinggi. Namun, sekarang, di masa digital yang merambah setiap individu membuat keadaan tak seperti dulu lagi.
Padatnya lalu lintas dengan intensitas kendaraan yang kian meningkat, serta teriknya matahari tak menyurutkan semangat Waginem. Meskipun kadang, beberapa pengguna jalan sering merasa kasihan dengan memberi uang secara cuma-cuma kepada Waginem. Keadaan yang memang sudah renta menyentuh rasa kasihan banyak orang, lalu memberikan sejumlah uang berlebih kepadanya, tapi Waginem selalu menolak dengan halus. Dengan senyum tulus ia berkata ?Matur nuwun sanget Den Bagus.? Ia yakin masih merasa mampu bekerja dan tidak mau hanya menengadahkan tangan.
Istimewanya, Waginem lebih memilih para pembeli yang membeli korannya daripada hanya memberi uang cuma-cuma kepada Waginem. Patut diberi apresiasi, perjuangan Waginem di usia senja ini dengan hidup sebatang kara, tak lelah untuk terus mandiri demi keberlangsungan hidupnya.”Koran laku setiap harinya dan mencukupi kebutuhan sehari-hari,” harap doa sederhana Waginem.
