Bernas.id – Kutemukan banyak orang berada di rumahku yang kecil. Suamiku tampak tertunduk di samping sebuah peti berenda indah. Beberapa orang duduk di samping peti itu, mereka terdiam, entah diam, entah berdoa. Para lelaki di luar rumah sibuk dengan beberapa kursi berwarna hijau dan tenda-tenda yang akan dipasang. Dengan banyaknya orang, semestinya suasana menjadi ramai, tapi tidak siang itu. Kesunyian begitu karib dengan aroma mawar, kopi, kapur barus, dan juga aroma sumbu lilin yang terbakar. Di runag tengah agak berbeda suasananya. Beberapa kerabatku dan dua orang pastor juga ada di situ . Salah satu dari mereka berkata dengan nada tegas, meski pelan, “Jika benar hal itu terjadi, sesuai aturan gereja, saya tidak mau memimpin misa requem. Titik!”
***
“Tuhan, jangan biarkan tanganku lelah memegang tangan-Mu, aku percaya Engkau tidak akan pernah melepasku. Biarkah kehedak-Mu menjadi lebih kuat dari kehendakku sendiri : bunuh diri”
Pojok kamar, 14 Oktober 1998
***
Kuletakkan buku harianku, buku agenda kecil lusuh yang menemaniku sejak aku masih SMA. Begitulah caraku berdoa. Masih dengan cara yang sama sampai saat ini. Menuliskannya di buku agendaku. Aku tidak mau ada yang tahu karena itu akan menyulitkanku. Aku akan ditanyai berbagai pertanyaan yang aku tak paham bagaimana harus menjawabnya.
“Kamu punya masalah apa sampai begitu?”
“Mengapa engkau lakukan itu?”
“Ingat Tuhan, Nduk nyebut?”
Itulah beberapa kalimat yang sering muncul dari mulut ibuku, satu-satunya orang yang pernah memergokiku ketika aku menuliskan hal itu. Namun sekarang doaku berubah, jauh dari kata-kata hendak bunuh diri.
***
Buku agenda itu masih kusimpan sampai sekarang. Bagian itu jarang sekali kubuka. Sesekali aku memang membukanya, sekedar ingin melihat dan bernostalgia. Iya sekedar bernostalgia. Kurang apa hidupku? Aku dianugerahi pekerjaan yang baik, suami yang bertanggung jawab meski kadang tidak setia, anak yang cerdas dan lucu. Ya, aku harus katakan itu, tentang ketidaksetiaan suamiku, ini terbukti dari lahirnya seorang anak dari seorang perempuan yang masih berkerabat denganku, yang pernah tinggal bersama kami untuk membantu pekerjaan di dapur kami yang tidak bisa kuhandle sendirian. Setiap bulan, kami mengirim uang untuk kelangsungan hidup anak itu di kampung, sesuai saran Ibuku ?Anak tetap anak tidak ada bekas anak?. Aku memaafkannya tentu saja. Toh masih banyak hal positif lain yang bisa kulihat, salah satunya adalah bertanggung jawab.
Sebagai seorang suami dia mengambil penuh tanggung jawabnya memenuhi segala kebutuhan kami. Ya aku harus bersyukur. Lihat di luar sana, ada beberapa suami yang hanya bernama suami tetapi sikap dan peranannya sangat jauh dari peran dan sikap seorang suami. Semua berjalan normal kembali, hanya ada sedikit perih setiap melihat bocah perempuan kecil yang wajahnya memang teramat mirip dengan suamiku. Tapi sudahlah itu masa lalu yang tak perlu diratapi. Sebagai seorang istri, aku pun tidak sempurna. Beberapa kali kutemukan aku lebih suka berbagi perih dengan orang lain, tidak dengan suamiku. Apakah itu masuk ke dalam pengkhianatan? Entahlah. Satu hal yang pasti, tidak ada alasan bagiku untuk memiliki kehendak itu, kehendak untuk bunuh diri.
“Kutelah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama… “
Kutulis sebait syair itu di kertas post it berwarna hijau, kutempelkan tepat di atas tulisanku bertanggal 14 Oktober 1998. Buku itu masih kubiarkan tergeletak di atas meja ruang kerjaku.
Tetapi konsentrasiku terganggu oleh dering mesin pompa air yang tidak berhenti. Aku bergegas keluar ketika kudengar suara pompa air tak berhenti setelah sekian lama. Biasanya ada sedikit ketidakberesan jika hal itu terjadi. Entah kenapa, aku terpanggil untuk melihat bak penampungan air. Bak penampungan air itu sudah lama tidak dibersihkan. Aku mencoba naik melihat sekotor apa air yang di dalamnya. Karena tidak kelihatan, maka aku mencoba melongok ke dalam lagi. Naas sekali karena kakiku tergelincir kemudian aku terjebur ke dalamnya. Aku berteriak kaget. Entah apa yang terjadi kemudian, aku hanya merasa kesulitan bernafas dan kurasa tubuhku seperti tersetrum sesuatu.
?Pak, sebaiknya segera pulang, istri Bapak membutuhkan Bapak segera?
Begitu bunyi SMS yang kuterima. Ada apa dengan istriku? Tadi ketika aku kerja dia baik-baik saja. bahkan dia yang selalu memberi saran agar aku menjaga kesehatan. Aku langsung meluncur pulang. Sesampai di rumah, sudah banyak orang berada di belakang rumah kami, mereka semua terpusat di dekat bak penampungan air yang letaknya cukup tinggi. Tidak banyak yang bicara, hanya salah satu dari mereka mencoba mendekatiku.
?Begini Pak. Tadi saya mendengar bunyi teriakan dari atas itu. Suara teriakannya memang keras tapi hanya sekali. karena penasaran maka saya naik ke atas. Dan saya menemukan Ibu, ya seperti itu ??
Aku langsung naik ke atas. Aku tidak peduli dengan beberapa orang yang berbisik-bisik. Sesampainya di atas, aku langsung menengok ke bak penampungan air. Kutemukan tubuh istriku hanya terlihat bagian kepalanya saja, karena mulut tangki memang tidak terlalu besar untuk melihat keseluruhan tubuhnya.
Badanku lemas. Aku tak kuasa menghadapi kenyataan di depan mataku. Aku langsung turun dan masuk ke rumah. aku biarkan para warga mengevakuasi tubuh istriku. Tempat pertama yang kutuju adalah ruang kerja, karena disitulah tempat paling sunyi yang ada di rumahku.
Seseorang mencoba mengikutiku sampau ke ruangan itu. Dia mencoba memberi pengautan padaku. Kuletakkan siku tanganku di meja kera itu sambil memegang kepalaku, mencoba berpikir apa sebetulnya yang terjadi dengan istriku.
?Pak, ini tulisan istri Bapakkah??
Aku tersadar dari kekacauanku. Kulihat sebuah buku harian dengan post it warna hijau ada di situ. Aku terperangah kaget. Kubaca pelan-pelan tulisan yang ada di situ.
“Tuhan, jangan biarkan tanganku lelah memegang tangan-Mu, aku percaya Engkau tidak akan pernah melepasku. Biarkah kehedak-Mu menjadi lebih kuat dari kehendakku sendiri : bunuh diri”
?Apa yang sedang terjadi dengan Bapak?Jadi Ibu kenapa sampai bisa seperti itu ??
Aku semakin tidak mengerti. Ada apa dengan istriku, apa sebetulnya yang terjadi dengannya? Apakah ini terjadi karena kepergianku kemarin. Apakah dia tahu bahwa aku membohonginya? Apakah dia tahu bahwa sebetulnya aku pulang untuk menengok anakku dan perempuan sintal yang lama kuabaikan itu? Ya Tuhan ?!
***
Suasana di ruang tengah itu masih tegang. Salah satu kerabatku mencoba memanggil suamiku yang masih tertunduk di sebelah peti untuk masuk. Sayup-sayup kudengar percakapan mereka.
“Kamu temukan buku harian ini di mana? “
” Di atas meja kerja… “
” Apakah kamu pernah melihat buku itu sebelumnya?”
” Tidak, tidak sama sekali”
“Apakah kamu tahu kalau istrimu mempunyai kecenderungan untuk bunuh diri? Apalagi belum ada seminggu kamu pulang kampung menengok anakmu yang di kampung itu. Kamu tidak perhatikankah bagaimana reaksi istrimu? Istrimu sempat cerita padaku, katanya kamu pergi tidak pamit! Bukan, salah, kamu pamit, tetapi pamit keluar kota karena tugas kantor. Kamu bohongi diakah? Karena istrimu sempat kaget ketika kuberitahu bahwa kamu pulang kampung menengok anak dan perempuanmu itu ke sana. Kamu membohongi dia lagi? Aku saksinya bahwa kamu bohong. Untung pas kamu pulang kampung aku juga pas pulang karena keperluan pengurusan akta tanah itu. Kalau tidak, tidak ada yang bakal tahu kalau kamu membohongi istrimu” desak seseorang yang tidak lain adalah pamanku sendiri.
Kulihat suamiku tertunduk tak mampu menjawab. Ada rasa penyesalan mendalam terbaca di matanya. Kulihat dia masih memegang buku harianku, dengan post it warna hijau yang menutupi bagian titi mangsa.
” Iya, aku tidak pamit, aku katakan pada istriku aku keluar kota karena pekerjaan kantor. Apakah karena itu sehingga dia memutuskan untuk melakukan ini, arrgghh ?”
Suasana tambah mencekam.
“Jadi apakah itu sebabnya sampai istrimu melakukan hal ini, hal… “
Suara tertekan di ujung tenggorokan.
“… bunuh diri!”
Seorang pastor yang sedari tadi diam, tiba-tiba angkat suara.
?Gereja Katolik tidak pernah mengizinkan misa requem dan bahkan ibadat sebagai sabda pemakaman bagi yang meninggal karena bunuh diri. Jadi, kalau istrimu meninggal karena bunuh diri, sesuai aturan gereja, saya tidak mau memimpin misa requem. Titik!”
Suasana semakin mencekam. Di tengah suasana yang mencekam itu. Aku berteriak kepada mereka bahwa aku tidak melakukan hal itu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mampu mendengar suaraku.
Sesaat kemudian, kulihat suamiku memijat keningnya, sebuah kebiasaan jika kepalanya sangat sakit. Buku agenda kecil itu masih dipegangnya. Post it hijau itu terjatuh menempel di pangkuan suamiku. Karena post it itu terjatuh, suamiku kemudian memerhatikan kembali catatan harianku.
?Pastor, lihatlah, istriku tidak bunuh diri. Di catatan harian itu tertulis tanggal 14 Oktober 1998. Ini tulisan dia sekian tahun yang lalu ??
Suasana tiba-tiba mengendur. Kulihat bberapa orang mulai mempersiapkan altar di dekat peti berenda indah itu.
Sementara itu, hal tak terduga telah terjadi, dua makhluk putih bersayap di belakangku. Dia mengajakku untuk segera beranjak dari tempat itu. Di depan tempatku berdiri, terbentuklah anak tangga menuju ke atas, ketika kulihat di ujung sana, kulihat seorang laki-laki dengan penuh cahaya mengulurkan tangan-Nya sambil berkata,
“… di rumah Bapaku banyak tempat tinggal…”
Tubuhku melayang dalam kedamaian yang belum pernah kurasakan diiringi lagu indah kesukaanku :
Nderek Dewi Maria tentu geng kang manah
Mboten yen kuatoso, Ibu njangkung tansah
Kanjeng Ratu ing suargo, monggo sumarah samyo
Sang Dewi, Sang Dewi mangestono
Sang Dewi, Sang Dewi mangestono
(*Penulis: Veronica Um Kusrini, Bekasi, 16 November 2017, 9 : 36 AM)
