Bernas.id – Sudah tidak asing lagi, kalau tenaga kerja baru tidak bertahan lama kerja di perusahaan. Paling lama 2-3 tahun mereka akan pindah kerja. Makanya, tenaga kerja sekarang sering dijuluki ?kutu loncat?. Pernyataan ini didukung oleh survey Jobstree Indonesia bahwa kaum milenial (nama lain tenaga kerja sekarang) gemar berpindah kerja kurang dari dua tahun.
Mereka pun dalam memilih perusahaan sangat selektif. Perusahaan yang dapat memberikan fasilitas seperti rumah, kendaraan, kesehatan dan peluang pendidikan, menjadi incaran nomor wahid. Terutama kalau ada fasilitas kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Mereka sangat mengidam-idamkan hal tersebut.
Bagi kaum milenial, kerja merupakan perolehan tanggung jawab yang lebih besar dan berkembang lebih cepat dibandingkan dengan karier pendahulunya. Sehingga pimpinan perusahaan yang memiliki kaum milenal harus betul-betul memperhatikan kebutuhan mereka.
Kenyamanan mereka bekerja sangat diperhatikan betul seperti waktu masuk dan pulang kerja dibebaskan. Yang penting pekerjaan mereka selesai. Suasana interior kantor diatur sedemikian rupa, sehingga mereka merasakan tempat bekerja adalah tempat bermain dan santai. Suasana lingkungan kerja pun dibuat pun nyaman di mana komunikasi dibuat seperti mereka tinggal dirumah orang tua mereka.
Dengan demikian, inovasi dan ide kreatifitas mereka selalu muncul terus. Hal yang demikian ini, memang diharapkan oleh perusahaan.
Walaupun begitu, treatment pimpinan perusahaan besar di Amerika Serikat yang biasa disebut dengan ?super bos? terhadap tenaga kerja milineal seperti yang diungkap oleh Sydney Finkelstein dalam bukunya ?Superbosses: How Exceptional Leasders Manage The Flow of Talent? (2006), sebagai berikut
1. Mengembangkan kemampuan tenaga kerja milenial
Seperti perancang busana Ralph Lauran, investor dan manajer pengelolaan dana Julian Robertson dan penemu teknologi Larry Ellison dan banyak lagi memperlakukan karyawan mereka dengan cara yang diinginkan milenial yaitu menawarkan bimbingan personal sesuai keinginan mereka, peluang maju yang luar biasa, kebebasan kreatif, kesempatan belajar berkolaborasi dan memberikan kesempatan kepada karyawannya yang ambisius untuk melakukan perubahan.
2. Tidak berusaha untuk mempertahankan karyawan muda terbaik
Dan mereka pun tidak berusaha keras untuk mempertahankan karyawan mereka. ?Super bos? tidak dalam ketakutan bahwa pekerja terbaiknya akan berkemas dan pergi untuk mengembangkan diri mereka sendiri.
Di mana akhirnya, mereka tetap menjalin kerjasama dengan mantan ?superbos? nya tersebut. Secara otomatis, hal ini dapat memperluas jaringan usaha ?superbos? tersebut.
Bagaimana dengan anak milenial Indonesia? Tentunya penjelasan di atas menjadi bahan referensi bagi kalian saat mencari kerja. Dan bagi para pimpinan perusahaan, yang memang butuh tenaga kerja milenial dan mempunyai kemampuan inovasi dan kreasinya besar, maka perlu melihat cara memperlakukan kaum milenal agar output mereka diperoleh secara optimal.
