Bernas.id- Di era digital ini, rasanya hampir setiap kita pasti mempunyai media sosial kan? Entah itu instagram, facebook, twitter, path, whatsapp, line, atau sejenisnya.
Kenapa sih kita tergerak untuk mengikuti arus tersebut?
Karena kita gak pengen disebut kuno. Karena kita gak mau dipanggil kudet, kurang update. Karena kita pengen eksis meski sekadar di dunia maya. Eksis dengan cara sering upload foto atau mungkin sekadar update status dengan satu kata. Ya, kita malu disebut ketinggalan zaman oleh orang yang ada di sekeliling kita. Akibatnya, sadar tak sadar percaya tak percaya kita pun akhirnya mengekor pada kebiasaan sebagian besar orang yang ada di sekitar kita. Secara perlahan, kebiasaan kita pun serupa dengan keadaan mereka. Jadi bisa dipahami ya, bahwa cara menjadi bagian dari sebuah kelompok salah satunya adalah dengan mengikuti kebiasaan yang paling sering mereka lakukan.
Dan hei, tahukah kamu apa kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang saleh calon penduduk surga?
Menjaga shalat
Allah sendiri telah memberikan jaminannya secara gamblang dalam Q.S Al-Ma?arij: 34-35,
?Dan orang-orang yang menjaga salatnya. Mereka itu dimuliakan di dalam surga.?
Masyaallah, ini adalah bukti bahwa mereka juga gak mau disebut kurang update apalagi gak eksis. Justru merekalah kelompok yang paling eksis sejagad raya. Kok bisa?
Karena.. Mereka update statusnya langsung di hadapan Sang Pemilik Kehidupan dengan salat di awal waktu, bukan dengan upload foto di dunia maya setiap waktu.
Salat bukanlah sekadar kewajiban sakral atau malah kebiasaan yang tidak dimaknai. Salat adalah sarana komunikasi antara hamba dengan Rabb-nya. Salat itu sebuah kebutuhan primer bagi seorang muslim.
Salat itu menyembuhkan pikiran yang bimbang, menyembuhkan hati yang patah, menyembuhkan jiwa yang tersesat.
Mari kita lihat ke dalam diri sejenak. Ketika azan berkumandang tak jarang kita tak segera beranjak mengambil wudu. Chat dengan teman membahas hits terbaru dari penyanyi favorit lebih seru. Atau mungkin sedang mengerjakan sebuah pekerjaan, lalu merasa tak masalah untuk menunda salat, toh masih ada waktu. Ya, kadang kita sengaja mengakhirkan salat mengabaikan panggilan ilahi.
Bukankah salat adalah amal yang kelak akan dihisab pertama? Tapi mengapa kita selalu punya alasan duniawi untuk menunda dalam melaksanakannya? Astaghfirullah..
Dalam sebuah hadis Imam Muslim meriwayatkan ini,
?Salat lima waktu itu menjadi penebus dosa yang terjadi di antaranya (dari waktu salat yang satu ke salat selanjutnya) selama engkau meninggalkan dosa besar.?
Betapa Maha Baiknya Allah kepada kita. Dia bersedia menjadikan salat sebagai penebus dosa kita. Lantas masihkah kita punya alasan untuk meninggalkannya?
Tapi, apakah semua salat yang kita dirikan pasti akan diterima oleh Allah?
Ternyata Allah juga punya kriteria dalam menerima amalan salat kita, yaitu yang didirikan dengan khusyu?. Padahal untuk bisa khusyu? itu susah, susah sekali. Hingga Ibnu Qayyim Al-Jausiyah pernah mengatakan,
?Sungguh betapa banyak orang yang salat tetapi tiada kebaikan padanya. Hampir saja engkau memasuki masjid, sementara tidak ditemukan di antara mereka orang yang khusyu'.?
Benar sekali, tak jarang kita memasuki masjid untuk mendirikan salat jama?ah di belakang imam. Ikut takbiratul ihramnya, tapi tanpa disadari tetiba sudah duduk tahiyat akhir. Untuk mendapatkan khusyu? memang tak mudah. Tapi setidaknya kita wajib untuk mengikhtiarkannya.
Untuk bisa merasakan salat dengan khusyu?, kita harus memulainya dari wudu yang juga harus dilakukan dengan khusyu?. Dengan memperhatikan segala rukun dan sunnahnya juga dengan gerakan yang disempurnakan.
Khusyu? adalah menghadapkan hati ke hadirat Allah hingga kita melupakan hal lain selain-Nya. Kita harusnya malu, jika berdiri menghadap Allah tapi hati dan pikiran justru fokus kepada hal lain. Entah itu pekerjaan rumah yang belum selesai atau mungkin bayangan deadline sudah menunggu untuk diselesaikan.
Mari perbaiki amal kita dengan mulai memperbaiki salat kita. Mari salat di awal waktu dengan khusyu?.
