Bernas.id – Pada umumnya orang tua, akan merasa kaget ketika anaknya satu persatu meninggalkan rumah tinggal. Tidak terasa, sang bayi sudah beranjak dewasa. Padahal baru kemarin, masih digendong-gendong. Sekarang sudah jadi pemuda yang gagah atau pemudi yang cantik. Mereka harus melanjutkan pendidikan, bekerja ataupun menikah.
Ruangan keluarga yang biasanya ramai oleh celotehan anak-anak. Kadang bantal sofa pun ikut beterbangan sebagai sasaran saling lempar. Sekarang diam membisu. Seperti patung dan tidak ada pergerakan sama sekali.
Rasa sepi tentunya sangat menusuk di hati kita. Karena tidak biasa kesepian itu ada dalam diri kita. Berbeda saat kita masih berdua dulu, saat di awal bahtera perkawinan. Semangat untuk membina keluarga dan menggapai cita-cita sangat jelas menantang di hadapan kita. Sehingga kita betul-betul konsentrasi untuk meraihnya.
Yang jelas kita sebagai orang tua akan merasakan hal-hal sebagai berikut:
1. Kangen yang tidak tertahankan
Awal-awal ditinggalkan si anak, hampir tiap hari terpikirkan. Bagaimana makannya, bagaimana kuliahnya, bagaimana pekerjaannya. Ingin rasanya langsung pergi ke sana. Paling bahagia saat kita ada waktu untuk mengunjunginya. Mungkin dua atau satu hari sebelum hari H-nya , kita sudah mempersiapkan segalanya. Terutama untuk membawa makanan kesukaannya.
2. Ada yang hilang di rumah
Perasaan hilang ini tentunya identik dengan kesepian. Kesehariannya, kita terbiasa mendengar laporan dari anak kita, entah masalah teman-temannya atau gurunya. Sekarang kita hanya duduk termangu berdua. Kadang bingung juga, topik apa yang akan diobrolkan. Akhirnya, kita akan melakukan kegiatan masing-masing dan penuh dengan kebisuan. Awal-awal biasanya ada keinginan untuk pergi ke rumah kontrakan atau kost si anak.
3. kekhawatiran yang berlebih
Ketika mendengar anak sakit. Langsung saja muncul kecemasan pada diri kita. Muncul di pikiran kita rasa takut yang mendalam, apabila anak kita sakit berkelanjutan terus. Kadang-kadang kita langung pergi ke kota di mana anak kita tinggal atau anak kita disuruh pulng ke rumah. Padahal sakit si anak mungkin hanya flu atau pusing biasa.
4. Berusaha menelpon atau whatsapp setiap hari
Bagi orang tua yang sudah tidak bekerja lagi, maka setiap waktu inginnya menelepon ke anak kita. Namun, biasanya anak kita melarang kita untuk menelpon terus terusan. Merasa terganggu saat dia kuliah ataupu bekerja. Untunglah sekarang, teknologi komunikasi semakin canggih. Apabila kangen sudah tidak tertahankan untuk melihat si buah hati, kita bisa melakukan video call. Sehingga saat menelpon bisa bertatapan muka.
5. Senang sekali ketika sang anak akan datang ke rumah
Rasa bahagia sepertinya menggelegar di hati kita, ketika sang anak mengabarkan akan datang ke rumah. Hari ke hari rasa bahagia tersebut bertambah terutama saat pertemuan dengan si buah hati. Namun, setelah itu akan muncul kesedihan. Ketika masa pertemuannya akan berakhir.
Demikianlah perasaan ini akan muncul bagi orang tua yang sebentar lagi anaknya akan merantau. Persiapkan dengan pikiran dan hati tenang. Karena masa itu akan tetap dijalani dan kemudian akan menjadi hal biasa, di mana kita sebagai orang tua bergelut dengan kesepian.
Satu-satunya untuk menjauhi kesepian, buatlah sesering mungkin pertemuan dengan teman-teman sebaya dan juga meningkatkan ibadah kita kepada Allah Swt. Sang Maha Pencipta.
