Bernas.id – Hal yang paling diinginkan orang tua adalah anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang cerdas, sehat dan memiliki kepribadian yang baik. Tentunya, pola asuh yang tepat akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian anak.
Pola asuh sering kita kenal sebagai suatu bentuk interaksi antara orang tua kepada anak-anak dalam melakukan berbagai hal dan kegiatan seperti mendidik, membimbing, merawat, memberi perlindungan dan bentuk interaksi lainnya. Hingga seorang anak mampu berinteraksi secara mandiri tanpa pendampingan dari orang tua.
Tapi tahukah Anda? Sering kali tanpa disadari para orang tua melakukan berbagai kesalahan dalam mengasuh anak sehingga bentuk-bentuk kecerdasan yang diharapkan tidak muncul pada anak. Boleh jadi, kesalahan mengasuh terjadi karena terbatasnya pengetahuan orang tua. Ditambah lagi dengan kebiasaan turun temurun yang diyakini sebagai cara terbaik mendidik anak karena terbukti anak berhasil seperti harapan para orang tua. Pada kenyataannya, disadari ataupun tidak, pola asuh tersebut tidak cocok lagi diterapkan untuk anak-anak zaman sekarang.
Pola asuh disetiap keluarga dapat berbeda satu dengan lainnya, dalam hal ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan serta kehidupan sosial juga budaya tempat tinggalnya. Berbicara pola asuh, kita mengenal 3 macam pola asuh, yakni :
Pola Asuh Otoriter
Dalam pola asuh ini, orang tua berperan sangat dominan yang artinya orang tua memiliki otoritas besar terhadap apa-apa yang dilakukan oleh anaknya termasuk dalam membentuk kepribadiannya. Yang terjadi adalah anak tidak bisa bebas mengungkapkan pendapatnya atau rasa keberatannya. Semua nasehat juga pendapat orang tua harus dipatuhi sehingga anak menjadi anak yang penurut.
Hal apa yang menjadi dampak bagi si anak?
Dari pola asuh ini, anak tumbuh menjadi anak yang disiplin namun kurang percaya diri karena kebebasannya terkekang. Selain itu, anak menjadi pribadi yang rendah diri, cenderung menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Berkembangnya daya kreativitas anak kurang maksimal sehingga anak tidak mempunyai keberanian untuk mencoba hal baru.
Pola Asuh Permisif
Pola asuh permitif ini kebalikan dari pola asuh otoriter. Anak memiliki kebebasan yang besar dari orang tuanya sehingga anak dapat mengembangkan daya kreativitasnya. Segala keinginan anak selalu dikabulkan oleh orang tuanya dan memperbolehkan apapun yang ingin dilakukannya. Hal ini tentu mempunyai dampak untuk si anak, apa saja dampaknya?
Kebebasan besar yang diberikan juga keinginan anak yang selalu dituruti dapat mengakibatkan anak tidak mengerti batasan-batasan dalam melakukan kreativitasnya. Anak kurang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Dari pola asuh premitif pula dapat membentuk kecendenderungan ego yang tinggi sehingga menjadi pribadi yang individualistik. Tak jarang terjadi, anak sering menuntut hak tetapi mengesampingkan apa-apa yang menjadi kewajiban, dan hanya melakukan apa yang diinginkan saja.
Pola Asuh Demokratis
Pola asuh ini merupakan perpaduan dari kedua pola asuh diatas. Antara orang tua dan anak memiliki porsi yang sama. Orang tua memberikan tuntutan dalam kehidupan anak sehari-hari tanpa mengekang kebebasannya. Artinya, anak dapat melakukan hal apapun selama itu positif dan tidak merugikan dirinya juga orang lain. Orang tua memantau dan mengarahkan sesuai dengan standar mereka tanpa membatasi kebebasan anak dalam berkreativitas. Apabila ada hal yang ingin disampaikan, pintu diskusi selalu terbuka untuk anak untuk memperoleh solusi dan nasehat dalam segala hal. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini memiliki kepribadian yang kuat dan dapat mengembangkan kreativitasnya dengan maksimal, menyelesaikan segala sesuatnya melalui musyawarah hingga memperoleh hasil yang positif.
