Bernas.id – Hidup tak akan berjalan mulus seperti kehendak kita. Dibalik suka bersembunyi duka dan luka, dibalik senyum tersirat kesedihan, dan dibalik tawa ada tangisan.
Begitu pula dengan percintaan. Sebelum terbit pelangi, selalu akan turun hujan. Akan ada kesedihan dan kedukaan sebelum menemui bahagia. Entah duka dan lara yang terlebih dahulu menjumpai, atau bahagia yang muncul lebih dulu, yang jelas roda akan berputar dan membuat siklus hukum alam yang tak bisa kita bantah.
Cinta bisa dinyatakan atau dibuktikan, tergantung individunya masing-masing. Kebanyakan orang memilih untuk menyatakan cintanya lewat kata-kata dan perbuatan. Risiko saat menyatakan cinta ada dua, yaitu diterima atau ditolak.
Tak ada satupun orang di bumi ini yang ingin mengalami penolakan. Penolakan menghancurkan kita menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbentuk. Apalagi setelah menyatakan cinta dan mengalami penolakan, akan ada rasa menyesal dan kecewa dan bahkan trauma untuk tak lagi menjajal cinta.
Sebagai seorang manusia dewasa yang selalu berkembang, kita harus bisa melihat penolakan dari dua sisi. Ada negatif dan positif, kedua hal itu bersanding dalam ketidaksamaan. Jangan melulu condong ke negatif, sekali-kali lihatlah sisi positif dari sebuah hal yang negatif. Penolakan pastinya memiliki sisi positifnya juga. Semua hal di dunia ini memiliki sisi positif.
Penolakan akan membuat kita lebih kuat. Penolakan adalah ujian mental yang tidak akan kita dapatkan di sekolah. Semakin sering mengalami penolakan, akan semakin tertempa mental kita. Kita akan menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri. Penolakan tak lagi membuat kita goyah.
Penolakan mengingatkan kita akan adanya cita-cita yang harus kita capai terlebih dahulu. Mungkin cinta akan menghambat perjalananmu, karenanya lebih baik hatimu dipatahkan supaya cita-citamu tercapai. Sakitnya patah hati tak sebanding dengan sakitnya kejatuhan.
Terakhir, sudah jelas dia bukan orang yang tepat untuk kita. Penolakan yang kita terima seharusnya meyakinkan kita jika ia tidak lebih baik daripada kita. Setidaknya kita telah jantan karena berani menghancurkan tembok penghalang dan menyatakan cinta kita. Kita pahlawan. Mereka yang menolak, apalagi secara mentah-mentah, tak akan pernah lebih baik daripada kita.
Mungkin kita akan membutuhkan ruang untuk sendiri. Menangis itu perlu, lakukanlah. Satu hari mungkin kita akan berkeping-keping. Namun, keesokkan harinya, kita harus menjadi utuh kembali dan bangkit menyambut masa depan.
