Bernas.id – Menilik bisnis retail di tahun 2017, beberapa retail santer terdengar gulung tikar. Retailer yang dimaksud bukanlah pemain kemaren sore, akan tetapi justru pemain yang sudah lama berkecimpung didalamnya. Beberapa faktor diduga kuat salah satu penyebab goyangnya bisnis retail ini. Salah satunya adalah bisnis online yang kian menjamur. Akan tetapi, benarkah hal ini penyebab terjadinya kemunduran bisnis retail offline?
Jual ditilik dari kontribusi bisnis online ini, ternyata kontribusinya masih relatif kecil yaitu 2% dari total keseluruhan bisnis retail, offline dan online. Hal ini membuat analisa perlu lebih dalam lagi apa penyebabnya beberapa bisnis retail di tahun 2017 relatif sepi pembeli.
Jika kita analisa lebih lanjut, menurut data BPS 2017 mencatat bahwa sepanjang tahun 2017, ekonomi Indonesia di topang oleh 2 faktor yaitu konsumsi rumah tangga dan investasi, masing-masing memberikan kontribusi 57.02% dan 23.95%. Konsumsi rumah tangga yang ditopang oleh empat sektor utama yaitu makanan dan minuman, kesehatan dan pendidikan, transportasi dan komunikasi, serta restoran dan hotel.
Dengan proposi lebih dari 50% untuk sektor konsumsi rumah tangga dengan total penduduk lebih dari 260 juta jiwa, harusnya sektor retail ini masih bisa berjaya di tahun 2018. Hanya saja, ada perubahan perilaku konsumen dan “kebosanan” dari cara retailer menawarkan produknya. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
1. Promosi yang sama
Berbagai retailer sangat agresif memasang iklan untuk promosi disetiap minggunya baik berupa katalog atau pun promo koran. Hal ini membuat bukan lagi menjadi daya tarik konsumen, tetapi hanya sebagai panduan. Konsumen beranggapan, berbelanja dimana saja sama saja.
2. Self service
Berbeda dengan konsumen di negara lain yang relatif bisa “mandiri” dalam berbelanja. Konsumen di Indonesia masih sangat memerlukan “pendamping” dari retailer. Untuk itu konsep self service ini menjadi salah satu faktor tidak ada loyalitas konsumen terhadap satu retailer saja.
3. Efektifitas dan efisiensi waktu
Perilaku konsumen di zaman now, lebih memperhitungkan masalah waktu. Tempat yang relatif luas dan besar telah mulai ditinggalkan. Konsumen lebih memilih tempat belanja yang lebih simpel tetapi “padat” dari sisi produk. Sehingga dari segi kebutuhan terpenuhi dan dari sektor efesiensi waktu pun terpenuhi.
Tiga faktor inilah hendaknya mulai diperhatikan dan difokuskan kembali terhadap konsumen di tahun 2018, agar retail offline kembali bisa menjadi pilihan utama konsumen.
