Bernas.id – Antibiotik dikenal sebagai obat yang mujarab bagi berbagai macam penyakit. Saat ini antibiotik dapat dengan mudah didapatkan tanpa harus menunggu arahan dokter. Antibiotik adalah obat keras yang sesungguhnya tak bisa diperjualbelikan secara bebas. Namun kenyataannya masyarakat justru mengonsumsi antiobiotik dengan sembarang. Penggunaan antibiotik secara irasional semakin menyebar luas juga dipicu dengan ketidakpatuhan apotik yang dengan entengnya melayani permintaan antibiotik tanpa adanya resep dokter.
Kebiasaan masyarakat yang sedikit-sedikit menggunakan antibiotik tidak membawa dampak penyembuhan secara pasti. Antibiotik adalah obat yang difokuskan untuk membunuh kuman bakteri, namun sayangnya kebanyakan dari kita memilih mengobati penyakit-penyakit ringan dengan antibiotik. Realitanya sakit flu, pilek, batuk dan penyakit ringan lainnya belum tentu disebabkan oleh bakteri. Jika penyebab timbulnya penyakit adalah virus, maka diatasi dengan antivirus. Penggunaan antibiotik secara tidak tepat justru dapat membunuh bakteri baik menguntungkan yang normalnya berkembang pada tubuh kita.
Lebih parahnya lagi penggunaan antibiotik secara irasional yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serika memperkirakan bahwa di AS saja sekitar 23.000 orang meninggal setiap tahunnya karena infeksi resistensi antibiotik. Menurut Kesehatan Publik Inggris, “Jika tidak ditangani secara cepat, maka resistensi antibiotik mampu merenggut 10 juta nyawa manusia di seluruh dunia pada tahun 2050.”
Resistensi terjadi ketika bakteri mampu berinteraksi dengan antibiotik kemudian melakukan mutasi dengan merubah komposisi gen DNA-nya sendiri secara spontan hingga akhirnya antibiotik tidak dapat membunuhnya lagi. Semakin kita berupaya untuk membunuh bakteri dengan antibiotik dan semakin banyak antibiotik yang berbeda yang digunakan, maka semakin banyak pula kesempatan bagi bakteri untuk mengembangkan gen baru untuk melawan antibiotik tersebut. Sebaliknya semakin sedikit intensitas penggunaannya, maka semakin sedikit pula bakteri yang berkembang dan berbagi resistensi.
Kita dapat mengurangi penyebarluasan bahaya resistensi antibiotik dengan bijak dalam memilih obat. Minumlah antibiotik atas petunjuk dokter. Umumnya pemberian antibiotik dalam jangka waktu sekitar 4 hari sampai seminggu tergantung jenis infeksi dan bakteri penyebabnya. Yang perlu dilakukan pada penyakit ringan yang disebabkan virus semisal pilek adalah meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi secara tepat dan istirahat yang cukup.
Selain itu, pandai-pandailah mengedukasi bahaya resistensi antibiotik pada kerabat sekitar. Upayakan menggunakan antibiotik sesuai sasaran. Penyakit A dan B belum tentu dapat diatasi dengan pemberian antibiotik yang jenisnya sama.
