Bernas.id – Waria dan Pesantren? Pasti kebanyakan orang membuat tanda tanya yang besar ketika mendengarkata tersebut. Secara harfiah, waria hanyalah kependekan dari kata wanita pria. Menurut Kemala Atmojo dalam bukunya Kami Bukan Lelaki, menyatakan bahwa waria adalah seorang laki-laki yang berdandan dan berlaku sebagai wanita. Sedangkan pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang bermuatan agama, diisi oleh para santri dan kyai.
Dalam pandangan masyarakat, Waria selalu dikonotasikan negative. Pekerja seks, pengamen, kasar, melanggar aturan, dan berbagai anggapan negative lainnya, yang membuat pendiskriminasian tidak terelakkan lagi. Sehingga, ketika menyandingkan waria dengan pesantren adalah suatu hal yang sedikit aneh. Di kota pelajar inilah berdiri sebuah pesantren yang merupakan salah satu wujud nyata dari usaha yang dilakukan para waria untuk menunjukkan sisi positif atas keberadaannya. Berikut beberapa hal mengenai Pesantren Waria ini.
1. Pesantren ini bernama Pondok Pesantren Waria Al-Fatah
Yaitu sebuah pondok yang diperuntukkan bagi para waria. Pemilik pondoknya waria, santrinya pun waria, namun pembimbing atau kyainya bukanlah seorang waria. Pondok pesantren ini, beralamatkan di Kotagede, Jagalan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Kegiatannya berlangsung setiap hari Minggu
Kegiatannya hanya satu minggu sekali, dari jam 4 sampai 9 malam. Dimulai dengan belajar membaca iqro? dan membaca Alquran sampai sholat Magrib. Kemudian masuk ke kelas dengan materi yang sudah ditentukan, yaitu berdasarkan standar kurikulum SMP, dan beberapa kitab lainnya. Setelah itu sholat isya? berjama?ah dan dilanjutkan dengan diskusi mengenai pergaulan, masalah-masalah yang ada dikomunitas, atau bagaimana sesungguhnya Islam memandang waria.
3. Ketika Sholat ada yang pakai mukena ada juga yang tidak
Dari 42 orang santri, yang menentukan sholat pakai mukena hanya 10 orang, selebihnya memakai sarung. Masing-masing memiliki argumen sendiri, ada yang berpendapat bahwa, ?aku tidak bisa menipu Tuhan, di hadapan Tuhan aku tetap seorang laki-laki.? Ada juga yang berpendapat bahwa dirinya memang sebagai perempuan. Di pesantren ini dipersilakan saja, sebab di sini lah tempat memberikan ruang nyaman bagi waria, agar dapat berkonsentrasi dan khusyuk ketika berhadapan dengan Rabb-nya.
4. Banyak waria yang terputus kerohaniaanya ketika keluar dari rumah
Ketika seseorang mengamini bahwa dirinya adalah seorang waria, maka kebanyakan dari mereka yang tidak diterima oleh keluarganya akan keluar. Mereka terputus dengan nilai-nilai kerohanian dan spiritual, sebab mereka sibuk berjibaku dengan penerimaan dirinya, orang-orang di sekitarnya, sibuk untuk survive dengan kehidupannya. Mereka akan mencari komunitas yang sama dan dapat menerima dirinya apa adanya. Jenis komunitas inilah yang akan menentukan bagaimana waria bersikap. Dan pondok pesantren waria Al-Fatah ini hadir sebagai salah satu solusi menghadirkan komunitas yang baik dan positif.
Itulah beberapa hal mengenai pesantren waria Al-Fatah. Terlepas dari pro kontra kita terhadap keberadaan waria, semoga tulisan di atas dapat membuka mata hati kita untuk memperlakukan waria sebagai manusia. Tidak lagi menghakimi dengan sebelah mata.
