Bernas.id – Tanggal 22 kemarin, banyak kalangan berbondong-bondong mengucap hari ibu, bertentangankah dengan judul tulisan ini? Tidak, fakta itu memang secara lahiriah hadir di permukaan kehidupan publik, pun dalam ranah yang lebih privat. Namun pada saat bersamaan apakah kodrat Ibu kini menjadi sesuatu yang diperbincangkan dan dielu-elukan di zaman ini? Jawabannya tidak, sebab di sana ada sejumlah sosok wanita karir, profesionalis yang berpenghasilan tinggi menjadi dambaan kalangan wanita hari ini.
Ketika ada yang bertanya berapa persen wanita terpelajar hari ini yang bercita-cita menjadi ibu sejati? meski belum ada riset yang pasti, namun melalui pemberitaan dan pandangan kasat mata kita bisa menyimpulkan bahwa ibu bukanlah status yang dicita-citakan oleh kebanyakan wanita terpelajar hari ini. Seakan kondisi ini berjalan alamiah, padahal sejatinya ada banyak intrik yang berperan di dalamnya sehingga para wanita terpelajar lebih tergiur untuk menyiapkan dirinya menjadi seorang wanita karir. Seakan mereka lupa posisi Ibu adalah yang terpenting dalam perkembangan manusia di masa depan, menduduki posisinya adalah kemuliaan dunia akhirat.
Ibu adalah pendidik pertama dan utama anak-anaknya. Dari Ibu anak anak belajar bertutur kata, belajar adab hingga belajar mengasah empati sosial. Kelak agar anak-anaknya menjadi sosok pemimpin umat yang berkepribadian tangguh. Fungsi ibu kini, banyak tergantikan oleh para rewang, baby sister, bahkan memelasnya lagi ketika urusan ini harus diambil alih lagi oleh para nenek yang seharusnya menjalani masa tuanya tanpa beban. Suatu potret keluarga di negeri ini.
Jika dipetakan secara runut akar masalahnya ibarat benang kusut, persoalan ini cukuplah kompleks. Setidaknya di sana ada desakan ekonomi, alasan prestise hingga kesetaraan dan pemberdayaan perempuan. Lagi-lagi memelas hati untuk memperbincangkannya. Ibu yang katanya surga berada di telapak kakinya, banyak yang berbangga menyandang statusnya apalagi mendapatkan apresiasi tiap Desember.
Apakah benar status menjadi ibu, mereka cita-citakan sejak dulu? Benarkah mereka para ibu telah belajar sungguh-sungguh sebelum menjadi ibu? Ataukah hanya mereka jalani mengalir tanpa belajar keras mempersiapkan segudang ilmu untuk menyandangnya? Tentunya status sebagai seorang ibu bukan sebuah momok yang mengancam karir, juga bukan sesuatu yang remeh temeh. Menjadi seorang ibu sejati bukan juga bermakna tak boleh terjun ke dunia publik, sebab hal ini bertumpu pada urusan prioritas dan pilihan pekerjaan saja, yang mana agar tidak mengalihkan ibu dari fungsi utamanya.
Reposisi status ibu perlu digalakkan sejak sekarang bahwa kodrati perempuan adalah sebagai Ibu, sehingga memahami peruntukan dasarnya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Semua itu harus dipersiapkan, dicita-citakan dan tentunya dibanggakan.
