Bernas.id – Senang, sedih, marah, kecewa dan sebagainya adalah bumbu kehidupan, pewarna yang menjadikan hidup penuh sensasi.
Terkadang manusia mengalami kemarahan terutama ketika ada gangguan yang menimpanya. Seperti yang berkaitan dengan hati, badan, kehormatan dan lainnya. Kemarahan dapat menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa perkataan maupun perbuatan yang haram.
Seseorang yang marah karena perkara-perkara dunia, maka kemarahan seperti ini tercela. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam menasihati seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ?anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ?alaihi wa sallam, ?Berilah wasiat kepadaku.? Nabi menjawab, ?Jangan engkau marah.? Laki-laki tadi mengulangi perkataannya berulang kali, beliau (tetap) bersabda, ?Jangan engkau marah.? (HR. Bukhari).
Maka jika seseorang ditimpa kemarahan, jangan sampai kemarahan itu menguasai dirinya. Jika telah dikuasai oleh kemarahan, maka itu bisa menjadi pengendali dan penguasa diri. Jangan melampiaskan kemarahan yang menyeret kepada perkara yang haram. Seperti mencaci, menghina, menuduh, berkata keji, dan perkataan haram lainnya. Atau memukul, menendang, membunuh, dan perbuatan lainnya
Tetapi sesungguhnya ada kemarahan yang terpuji. Jika Rasulullah melihat atau mendengar apa yang dimurkai Allah, maka beliau marah karenanya, beliau berbicara tentangnya, beliau tidak diam! Di antara sebagian sikap beliau tentang hal tersebut, ialah :
1. Dari ?Aisyah ra.
“Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam datang dari safar (bepergian), sedangkan aku telah menutupkan sebuah tirai pada sebuah rak.” Pada tirai itu terdapat gambar-gambar. Maka setelah beliau melihatnya, lalu mencabut tirai tersebut dan bersabda, ?Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyamai (menandingi) ciptaan Allah.? ?Aisyah Radhiyallahu ?anha berkata, ?Maka tirai itu kami jadikan sebuah bantal atau dua bantal.?
2. Dari Abu Mas?ud Al Anshari ra.
Dikutip dari almanhaj.or.id, “Seorang lelaki menghadap Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam lalu berkata, ?Sesungguhnya aku memperlambat salat Shubuh disebabkan oleh Si Fulan (imam salat) yang memanjangkan salat dengan kami.? Maka tidaklah aku melihat Nabi Shallallahu ?alaihi wa sallam marah dalam memberikan nasihat sama sekali yang lebih hebat dari kemarahan beliau pada hari itu. Lantas beliau bersabda, ?Wahai manusia, sesungguhnya di antara kamu itu ada orang-orang yang membikin manusia lari (dari agama)! Siapa saja di antara kamu yang mengimami orang banyak, maka hendaklah dia meringkaskan. Karena sesungguhnya di belakangnya, ada orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan orang yang memiliki keperluan.?
Marah merupakan hal wajar yang ada pada manusia, marah seorang muslim tidak tercela dan akan membawa kebaikan jika marah terhadap apa yang tidak disukai oleh Allah. Namun tetap dalam batas yang digariskan oleh Islam, jangan berlebihan.
