Bernas.id – Marah adalah salah bentuk emosi yang ada di dalam diri manusia. Ia adalah respon diri terhadap sesuatu yang terjadi di sekitar kita yang membuat ketidaknyamanan. Rasa tidak nyaman itu bermula dari rasa kesal, lama kelamaan meledak menjadi sebuah kemarahan yang ditujukan kepada penyebab rasa kesal tersebut. Bentuk kemarahan setiap orang berbeda-beda. Ada yang menyimpan dalam hati dengan segala gemuruh di dada. Ada juga yang keluar melalui lisan, bahkan kata-kata yang keluar pun sudah tidak bisa dikontrol. Dan lebih parah lagi, amarah itu berwujud dengan tindakan fisik yang bisa merusak lingkungan dan melukai orang lain.
Ada satu hadits Rasulullah mengenai marah: Abu Hurairah ra. Berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, ?Berilah aku nasehat.? Beliau menjawab, ?Jangan marah.? Beliau mengulanginya beberapa kali. (HR. Bukhari).
Dari hadits ini, bisa kita dapati bagaimana berulang kali Rasulullah menasehati laki-laki tersebut menjauhi rasa marah. Dalam kitab Al-Wafi karya Dr. Mustafa Dieb Al-Bugha, kalimat yang digunakan oleh Rasul adalah ?jangan marah? memiliki penjelasan agar kita menjauhi hal-hal yang menyebabkan kita bisa marah. Berarti rasa marah tidak bisa dihapus dari diri manusia. Permasalahannya, bagaimana kita mengatur rasa amarah tersebut menjadi suatu hal yang positif. Apalagi rasa marah yang kita gunakan untuk memberi pelajaran. Yuk! Kita simak ciri-ciri marah yang mendidik di bawah ini:
1. Marah dengan perbuatannya, bukan pelakunya;
Orang yang marah kepada seseorang yang melakukan kesalahan itu sebuah kewajaran. Akan tetapi, perlu diingat, marah yang mendidik adalah kemarahan terhadap kesalahan yang diperbuat orang lain. Bukan kepada pelakunya. Sehingga, marah yang keluar terfokus pada bagaimana orang yang melakukan kesalahan tersebut sadar bahwa sedang melakukan kesalahan. Bukan membenci pelakunya.
2. Fokus dengan masalah;
Orang yang marah dengan tujuan mendidik, ia akan fokus dengan permasalahan. Kemarahan yang keluar tidak akan pernah menghubung-hubungkan dengan permasalahan lain. Orang yang melakukan kesalahan pun tidak akan merasa dihakimi sebagai orang yang selalu membuat kesalahan.
3. Kejernihan berfikir;
Ketika marah, sebagian orang terkadang tidak bisa mengontrol sikap dan bahasa yang keluar, karena dirinya sudah dikuasai emosi yang bergejolak. Tapi, bagi orang yang marah dengan tujuan mendidik akan terlihat tenang. Dia bisa mengatur tinggi rendah suara dan ekspresi wajah. Tetapi terlihat wibawa dengan kemarahannya.
4. Memberikan solusi;
Kesalahan yang dilakukan seseorang terkadang terjadi oleh ketidaksengajaan atau ketidaktahuan. Oleh karena itu, marah yang mendidik akan sangat sadar tentang hal ini. Tugasnyalah untuk mengingatkan dan memberitahu solusi dan konsekuensi dari kesalahan tersebut. Dengan memberikan pilihan-pilihan solusi yang ditawarkan.
5. Tidak menyimpan dendam.
Kemarahan yang mendidik keluar dengan hati yang jernih. Ia tidak terkotori dengan rasa benci apalagi dendam. Ia akan tetap menjaga hubungan yang baik dengan orang yang melakukan kesalahan. Kata maaf adalah kunci dari permasalahan ini. Jika hati penuh dengan rasa maaf, maka tidak ada lagi tersisa untuk rasa dendam.
Ketika kita marah, berusahalah untuk mengendalikan diri. Rasul mengajarkan kita untuk mengendalikannya dengan cara berpindah posisi. Mulai dari berdiri, duduk sampai berbaring. Jika itu belum berhasil, maka ingatlah, marah itu datangnya dari syetan. Segeralah berwudhu untuk mendinginkan organ-organ tubuh yang tegang dengan air yang mampu mendinginkan saraf-saraf kita, dengan harapan amarah kita pun bisa mereda.
