Bernas.id – Setiap orang menginginkan tidur yang berkualitas setelah seharian sibuk dengan aktivitas. Apalagi jika aktivitas tersebut menyita tenaga dan pikiran, bahkan menyisakan stres. Namun ternyata bukan hal mudah memperoleh tidur berkualitas di tengah kondisi stres. Pasalnya, sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris baru-baru ini menunjukkan bahwa stres juga bisa merasuk ke dalam tidur Anda melalui mimpi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Motivation and Emotion akhir November lalu itu menemukan bahwa meski di dalam kondisi tidur, manusia pada dasarnya tidak dapat bersembunyi dari stres akibat tekanan yang mereka dapatkan pada aktivitas sehari-hari. ?Temuan kami menunjukkan bahwa sebenarnya ada kaitan erat antara pikiran dan pengalaman sosial,? kata Netta Weinstein, pemimpin penelitian tersebut sebagaimana dikutip Live Science. ?Jika hidup kita sangat menantang, hal itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk mimpi,? tambah dosen senior di Cardiff University, Inggris, tersebut.
Lebih jauh, dalam penelitian tersebut, para peneliti mencari hubungan antara mimpi manusia dengan tiga kebutuhan psikologis manusia yang kerap membuat manusia stres, yaitu: kebutuhan untuk merasa kompeten, kebutuhan untuk merasa mandiri dan kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain.
Menurut Winstein, yang dimaksud dengan kebutuhan untuk merasa kompeten adalah perasaan kompeten dalam pekerjaan atau bidang lain yang dianggap penting. Kemudian, kebutuhan untuk merasa mandiri adalah perasaan tidak ingin dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukan. Sementara kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain adalah perasaan terhubung dengan orang yang dekat dalam hidup mereka.
Para peneliti melakukan dua eksperimen terpisah. Dalam eksperimen yang pertama, peneliti meminta satu kelompok yang terdiri dari 200 siswa mengingat mimpi yang sering mereka alami. Peneliti kemudian membandingkan mimpi-mimpi tersebut dengan kehidupan sehari-hari para pelajar dan kebutuhan psikologis mereka. Sementara dalam penelitian kedua peneliti meminta sekelompok yang terdiri dari 110 siswa untuk mencatat mimpi mereka selama tiga hari dan peristiwa yang terjadi pada siang harinya.
Melalui dua eksperimen tersebut, para peneliti menemukan bahwa nuansa emosional yang ada di dalam mimpi kerap berhubungan dengan peristiwa frustratif yang dialami sebelumnya, terutama yang berkaitan dengan tiga kebutuhan psikologis manusia. ?Saat orang mengalami peristiwa frustratif dan mengecewakan dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan bermimpi merasa stres, sedih atau frustrasi,? papar Weinstein.
Weinstein menyadari bahwa hubungan antara pengalaman dan mimpi tidak berlaku sama pada setiap orang, tetapi eksperimen yang ia lakukan setidaknya membuktikan hal itu. ?Kami menemukan bukti bahwa mimpi terjatuh, diserang oleh seseorang, terkunci di dalam ruangan, atau mencoba sesuatu berkali-kali tapi gagal, bisa jadi berhubungan dengan pengalaman frustratif yang terjadi pada siang harinya,? tambah Winstein.
Kendati demikian, Weinstein mengatakan bahwa tidak mencoba untuk membedakan ketiga kebutuhan psikologis manusia karena jumlah mimpi yang ia teliti relatif sedikit. Dari dua eksperimen yang ia lakukan, Weinstein meneliti sekitar 400 mimpi. Jumlah yang tidak memadai untuk penelitian yang lebih mendalam. ?Anda membutuhkan sampel mimpi yang banyak untuk bisa melihat tipe-tipenya secara spesifik berdasarkan isinya. Setelah itu, Anda baru bisa menentukan setiap mimpi berhubungan dengan kebutuhan psikologis yang mana,? jelasnya. ?Penelitian kami baru bisa mendekati mimpi dengan sudut pandang yang luas, untuk menguji bagaimana peristiwa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari bisa merasuk ke mimpi,? tambah Weinstein.
Kesimpulan akhir yang didapatkan Weinstein melalui eksperimennya adalah pengalaman buruk yang dialami seseorang dalam kehidupan sehari-hari berakibat buruk pada kualitas tidur. Selain itu, orang-orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan psikologisnya juga dilaporkan lebih sering bermimpi buruk.
Dalam melakukan eksperimennya, Weinstein juga merujuk Sigmund Freud, pionir studi tentang mimpi pada akhir abad ke-19. ?Mimpi menunjukkan isi pikiran yang merasuk hingga ke dalam alam bawah sadar,? kata Weinstein mengutip Freud. ?Tetapi hingga seabad lebih kemudian, para ilmuwan masih belum yakin sepenuhnya mengenai fungsi mimpi,? pungkasnya.
