Bernas.Id – Bystander Effect merupakan fenomena psikologi sosial di mana semakin banyak jumlah orang justru akan mengurangi jumlah pertolongan yang diberikan. Hal ini terjadi ketika setiap orang berpikir bahwa mereka tidak harus menolong karena di sekitar kejadian banyak orang yang bisa menolong. Kehadiran orang lain pada lokasi suatu peristiwa justru akan menekan tanggung jawab seseorang untuk menolong. Sebelum memberikan pertolongan, seorang akan mengamati orang lain yang berada pada tempat kejadian yang sama. Semakin banyak orang yang ada di tempat kejadian, maka akan semakin acuh dengan bahaya yang terjadi. Alih-alih menolong, justru orang-orang akan saling mengamati dan merasa menolong orang lain merupakan tanggung jawab orang lain yang berada pada lokasi yang sama. Pemikiran seperti itu dikenal dengan nama diffusion of responsibility atau difusi tanggung jawab yang dinilai menjadi penyebab utama terjadinya bystander effect.
Kecelakaan merupakan peristiwa yang sering menggambarkan terjadinya bystander effect di Indonesia. Saat terjadi kecelakaan orang akan cenderung berkerumun bukan untuk menolong, melainkan hanya sekedar melihat apa yang sedang terjadi. Peristiwa lain yang menjadi sorotan bystander effect adalah ketika terbunuhnya dr. Letty di tempat praktik oleh suaminya sendiri. Saat itu terdapat beberapa karyawan yang bertugas di tempat kejadian, namun ketika dr. Letty berteriak meminta bantuan, tak ada satu pun karyawan yang menolongnya. Hal ini dikarenakan karyawan mengetahui bahwa suami dokter Letty membawa senjata api yang bisa melukai siapa pun yang akan berusaha menolong. Sedangkan sebagian lain berpendapat bahwa pertengkaran dr .Letty dengan suaminya sudah biasa terjadi, sehingga mereka berkesimpulan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang membahayakan.
Latane dan Darley menemukan bahwa ada 5 pertimbangan yang dilakukan seseorang sebelum memutuskan untuk menolong, lima hal tersebut meliputi
1. Mengamati peristiwa yang sedang terjadi
Seseorang yang tidak menyadari akan adanya suatu peristiwa yang terjadi, maka tidak dapat membantu. Kesadaran seseorang ini dipengaruhi oleh keberadaan orang lain yang berada pada tempat yang sama, semakin sedikit orang justru akan membuat seseorang semakin perhatian terhadap lingkungannya.
2. Menerjemahkan peristiwa yang sedang terjadi sebagai kejadian darurat
Seseorang akan menerjemahkan sesuatu sebagai hal yang darurat jika terdapat ancaman atau tindakan yang membahayakan. Kejadian jarang atau tidak biasa terjadi, membutuhkan penanganan khusus yang berbeda dari kondisi sebelumnya, tidak dapat diprediksi atau tidak diharapkan terjadi, serta membutuhkan tindakan yang harus segara diatasi. Apabila yang yang terjadi adalah hal-hal tersebut, maka orang akan cenderung enggan menolong. Salah satu contohnya pada kasus dr.Letty. Karyawan yang berada di tempat praktik sudah terbiasa mendengar dr. Letty berdebat dengan suaminya, sehingga ketika dr. Letty meminta tolong mereka menganggapnya sebagai hal yang wajar dan sudah biasa terjadi.
3. Memiliki rasa tanggung jawab atas peristiwa yang terjadi
Darley dan Latane menjelaskan bahwa rasa tanggung jawab seseorang atas suatu kejadian tergantung pada tiga hal meliputi kompetensi seorang penolong, layak atau tidaknya seseorang mendapatkan bantuan, serta hubungan antara penolong dengan korban.
4. Menentukan bentuk pertolongan kemudian
Pertolongan dapat berbentuk langsung dengan membantu korban maupun secara tidak langsung dengan melibatkan pihak lain yang berwenang.
5. Memutuskan untuk menolong
Seseorang akan memutuskan untuk menolong setelah memepertimbangkan tahap pertama hingga ke empat
Sebagai seseorang yang memiliki rasa kemanusiaan alangkah baiknya kita tidak terkena bystander effect yang hanya menjadi penonton ketika ada kejadian darurat di sekitar kita. Namun, sebelum memberikan bantuan kita juga harus memperhatikan beberapa hal seperti kemampuan yang kita miliki. Jika memang kita dituntut untuk melakukan hal di luar kapasitas kita, maka sebaiknya meminta bantuan pihak lain yang memiliki kapasitas dan kewenangan dalam hal tersebut.
Kebaikan itu memang sungguh mahal, karena tidak semua orang menyadari adanya peluang yang membawa kita pada kebaikan. Benarlah Tuhan yang meminta kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, yang berarti mengharuskan kita untuk lebih peka dengan keadaan lingkungan.
