Bernas.id – Seorang dari Dunia Arab untuk pertama kalinya diakui sebagai pahlwan oleh Israel. Ia adalah Mohammed Helmy, seorang dokter yang dianggap berjasa karena menyelamatkan kaum Yahudi pada masa Perang Dunia II. Helmy secara anumerta mendapat penghargaan lencana Righteous Among the Nations dalam sebuah upacara di Kementerian Luar Negeri Berlin, Oktober lalu. Penghargaan itu diberikan Duta Besar Israel untuk Jerman, Jeremy Issacharoff kepada cicit Helmy yang juga seorang dokter, Nasser Kotby.
Dilansir dari The Local akhir Oktober lalu, penghargaan itu diberikan setelah tertunda selama empat tahun. Yad Vashem, kelompok penyelenggara penghargaan Righteous Among the Nations sebenarnya sudah mengakui jasa Helmy sejak 2013, tetapi mereka tidak berhasil menemukan keturunannya.
Rena Steinfeldt, direktur Righteous Among the Nation mengungkapkan bahwa keberanian Helmy menyelamatkan kaum Yahudi pada masa Perang Dunia II patut diapresiasi karena melampaui batas-batas perbedaan. ?Rasa kemanusiaan Helmy menunjukkan setiap manusia, betapapun terpinggirnya dalam masyarakat dapat membuat perbedaan,? kata Steinfeldt kepada The Local.
Dalam bukunya berjudul Resisting the Holocaust: Upstanders, Partisans and Survivors, Paul R. Bartrop menyebut Helmy sebagai satu di antara sedikit tokoh yang berani melawan rezim NAZI Jerman pada masa Perang Dunia II. ?Mereka berkata tidak pada NAZI dengan berbagai cara dan dengan berbagai alasan. Dan saya menemukan satu kata tepat yang mewakili aksi mereka, yaitu perlawanan,? tulis sejarawan asal Australia yang fokus meneliti Holocaust itu.
Helmy lahir di Sudan pada tahun 1901 dari seorang ayah berdarah Mesir dan ibu berdarah Jerman. Ia pindah ke Berlin pada tahun 1922 untuk belajar ilmu kedokteran. Helmy kemudian bekerja di Robert Koch Hospital hingga tahun 1938. Peraturan pemerintah yang diskriminatif membuatnya dipecat dari rumah sakit itu. Ia yang memprotes peraturan itu kemudian ditangkap dan dipenjara selama setahun.
Kisah heroik Helmy dimulai tak lama setelah ia keluar dari penjara, ketika seorang pasien Yahudi bernama Anna Boros meminta pertolongannnya supaya terhindar dari Holocaust. Helmy mengabulkan permintaan Boros. Mengabaikan bahaya yang mengancamnya, Helmy menyembunyikan Boros di sebuah apartemen miliknya yang terletak di pinggiran Jerman. Untuk mengaburkan jejak, sesekali Helmy menitipkan Boros di rumah teman-temannya secara berpindah-pindah.
Tidak hanya itu, Helmy juga menyembunyikan tiga anggota keluarga Boros. Yaitu, Julie, ibunya; Georg Wehr, ayah tirinya; dan Cecilia Rudnik, neneknya. Kali ini, Helmy tidak sendiri, tetapi dibantu koleganya, seorang perempuan Jerman bernama Frieda Szturmann.
Helmy melakukan apa saja yang ia mampu untuk menyembunyikan Boros dan keluarganya dari kejaran NAZI. Beberapa dokumen dalam bahasa Jerman dan Arab yang belakangan ditemukan bahkan mengungkap usaha Helmy memintakan piagam mualaf bagi Boros dari Central Islamic Institute Berlin. Dari piagam itu diketahui bahwa Helmy juga memalsukan sebuah pernikahan bagi Boros dan seorang pria Mesir di rumahnya.
Setelah perang berakhir Helmy menikah dengan perempuan yang telah dikenalnya sebelum perang bernama Emmi. Namun keduanya tidak dikaruniai anak. Helmy meninggal pada tahun 1982 dalam usia 81 tahun. Karena keberaniannya menyelamatkan Boros dan keluarganya, Helmy kerap dijuluki sebagai Si Schindler dari Arab. Schindler merujuk pada Oskar Schindler, seorang pengusaha Jerman yang dikenal karena upayanya menyelamatkan buruh-buruh Yahudi dari kejaran NAZI.
