Bernas.id – Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Kewajiban ini melekat pada diri kita sejak lahir hingga ke liang lahat. Artinya memulai belajar harus sejak dini dan tidak ada alasan untuk berhenti belajar meski sudah berumur. Kita melihat semangat menuntut ilmu berbagai disiplin ilmu tidak perlu dipertanyakan lagi. Saatnya ajaran baru, semangat untuk masuk sekolah-sekolah umum maupun berbagai jurusan di Perguruan Tinggi selalu tinggi, bahkan penerimaan siswa atau mahasiswa baru yang dibuka jauh-jauh hari cepat sekali terpenuhi kuotanya.
Akan tetapi disisi lain sangat disayangkan, motivasi untuk mengimbangi belajar ilmu agama sebagai penuntun kehidupan di dunia maupun di akhirat masih sangat memprihatinkan. Lihatlah ketika di dua tempat yang berbeda digelar 2 acara untuk generasi muda yang berbeda juga, di mana di satu tempat digelar acara konser musik atau temu artis, dan di tempat yang satunya digelar pengajian untuk remaja. Manakah yang pesertanya akan membludak? Ya, miris memang. Acara musik atau temu artis peminatnya akan lebih banyak.
Pekerjaan rumah bagi kita semua, bahwa kita perlu menyadarkan diri kita dan menyadarkan generasi muda untuk membuka kesadaran dalam menuntut ilmu agama sebagai bekal menuju kehidupan akhirat kelak. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib, baik yang bersumber dari Alquran dan hadis Nabi Saw.
?Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama?? (QS. At-Taubah:122)
?Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam? (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)
Sudah tidak terbantahkan lagi mengenai pentingnya kita dalam menuntut ilmu, di antaranya dengan ilmulah kita akan bisa meniti kehidupan dunia ini dengan penuh kehati-hatian, karena sifat dunia ini adalah fana dan hanya kehidupan akhiratlah yang kekal.
Menuntut ilmu bisa kita ibaratkan dengan aktivitas mendaki gunung yang tinggi. Saat kita menuju puncak yang tertinggi, akan banyak rintangan yang menghadang seperti jalan yang terjal, cuaca yang tidak mendukung dan serangan binatang buas yang mengancam. Jika kita melaluinya dengan benar dan dengan semangat yang tinggi, kita akan sampai di puncak dengan mudah. Begitu pula dengan menuntut ilmu, akan ada banyak rintangan yang menghadang kita. Terkadang rintangan itu berasal dari kita sendiri. Misalnya kemalasan dalam menghadiri majelis ilmu, kurangnya kesungguhan dalam belajar, dan pengaruh dari luar yang mnghalang-halangi kita untuk mendatangi majelis ilmu.
Ilmu hanya bisa diperoleh dengan belajar, suatu proses yang didalamnya kita membutuhkan sumber ilmu. Sumber ilmu itu bisa berasa dari seorang guru, dari berbagai buku, berbagai audio maupun video. Ingatkan kisah Imam Syafii kecil? Ya, masa muda beliau sangat produktif dalam mencari ilmu. Dia menemui dan mencari guru demi mendapatkan ilmu meski harus menempuh perjalanan yang jauh. Dia sungguh-sungguh dalam menyimak ilmu dari gurunya dengan rajin mentatatnya baik di batu, daun, batang atau pun tulang. Sampai tulisan-tulisan ilmu yang didapat memenuhi rumah kecil beliau yang dihuni bersama ibunya.
Banyak pula contoh dari para ulama yang demi keinginan dan semangatnya dalam menuntut ilmu ada yang sampai menjual tanahnya, rumahnya untuk merantau meunuju sumber ilmu maupun mempersiapkan perangkat dalam menuntut ilmu. Karena ilmu memang mahal, ilmu inilah yang akan membawa ke surga-Nya.
Ilmu itu ibadah, jadi hendaklah kita mengikhlaskam diri dalam menuntut ilmu. Luruskan niatan kita bahwa proses menuntut ilmu kita karena Lillah, bukan semata dalam rangka mengejar jabatan tertentu. Jadi marilah kita rubah mindset kita, di tengah kesibukan kita dalam mengejar ilmu dunia, jangan sampai kita kemudian lupa untuk memperdalam ilmu akhirat.
Beberapa rambu-rambu dalam menuntut ilmu, diantaranya :
1. Meniatkan diri dalam menuntut ilmu hanya semata karena Allah SWT.
2. Menuntut ilmu dalam rangka menjaga syariat, artinya agar syariat Islam terjaga sampai nanti zaman anak cucu kita.
3. Meniatkan diri membentengi syariat agar terjaga kemurniannya dalam ibadah.
4. Meniatkan dalam rangka mengikuti sunah Rasulullah Saw., di mana Rasulullah senantiasa belajar kepada malaikat Jibril dan para sahabat pun juga mencari ilmu dari Rasulullah Saw.
Kita seharusnya memperhatikan adab menuntut ilmu, agar aktivitas kita bisa memberikan hasil maksimal seperti yang kita harapkan. Beberapa adab di antaranya:
1. Bertanya dengan baik.
2. Mendengar serta menyimak sebaik mungkin ilmu yang disampaikan guru.
3. Memahami dengan cara yg baik. Biarkan ustaz menyampaikan penjelasan terlebih dahulu, baru kita pahami.
4. Menghafal.
5. Mengajarkan, karena sesungguhnya dengan mengajar ilmu kita akan semakin berkembang.
6. Mengamalkan ilmu dan memperhatikan batasannya.
Semoga kita menjadi insan-insan yang terus memotivasi diri kita untuk terus belajar dan belajar ilmu dien kita disamping ilmu dunia kita.
