Bernas.id – Berbondong-bondong orang berdatangan ke swalayan megah yang sistemnya tinggal sodor barang, lalu muncullah harga barang. Banyak orang beranggapan kalau tidak belanja ke swalayan rasanya ada yang kurang, nggak eksis, katrok dan kampungan. Mengingat di tahun 2018 ini adalah zaman millenium ke-3, di mana semua hal berbau kekinian. Jika di zaman sekarang ini masih ada orang yang belum pernah masuk ke swalayan atau mal, maka orang tersebut benar-benar setia dengan masa lalunya dan tidak ingin meninggalkan adatnya untuk belanja ke warung-warung kelontong dan pasar-pasar tradisional.
Namun nyatanya lain zaman, lain pula cerita. Kita bisa lihat generasi di zaman millenium ini, jangankan untuk menginjakkan kaki ke pasar tradisional, membeli barang kebutuhan di warung samping rumah pun tak sudi. Tapi malah lebih memilih pergi ke swalayan dan mal yang ditempuh dengan waktu puluhan menit, bahkan hingga berjam-jam perjalanan. Coba bayangkan betapa boros waktu dan tenaga dikeluarkan?
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Selain boros waktu dan tenaga, juga belum lagi uang untuk membeli bensin, makan, dan untuk merias wajah supaya keren saat berada di mal dan terlihat orang kota. Orang di zaman sekarang lebih suka berkelana ke mal yang mereka inginkan. Tak peduli ada berapa uang dikantong, baginya yang penting exis sekalipun hanya untuk cuci mata. Mulai dari anak SMP, SMA, kuliah bahkan sampai emak-emak, gayanya pun tak jauh berbeda.
Itulah perkembangan zaman, tidak hanya berkembang di bidang teknologi, namun juga berkembang dalam gaya sehari-hari. Sebagaimana kita ketahui, bahwa pengusaha swalayan dan mal kini dikuasai dan didominasi oleh orang asing. Bukankah itu sangat disayangkan? Kita sebagai orang Indonesia lebih memilih untuk membeli barang yang dijual oleh asing, sehingga orang asing lebih maju dan lebih kaya. Lalu bagaimana dengan orang Indonesia? Usaha milik pribumi asli akhirnya statis dan tak berkembang. Padahal jika kita mau membeli barang dari sesama orang Indonesia, maka kita dapat membantu perekonomian orang Indonesia.
Baca juga: Jurusan Manajemen: Pengertian Ilmu Manajemen dan Daftar Universitas
Apakah kita tidak sayang kepada sesama suku, agama dan bangsa kita sendiri? Tentu kita menyayangi keluarga kita (Indonesia) dan ingin memajukan bangsa Indonesia pada bidang ekonomi. Oleh karena itu mari simak tips gaya belanja demi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
1. Belanja di dekat rumah
Setiap daerah pasti terdapat warung-warung kecil yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Biarpun terbilang agak sedikit mahal, dibanding dengan swalayan besar, namun betapa bermanfaat ketika kita belanja di warung, karena membantu roda perekonomian khususnya untuk tetangga kita, yang tentunya adalah warga Indonesia.
Baca Juga: 10 Prospek Kerja Lulusan Akuntansi di Berbagai Profesi
2. Niatkan untuk beramal dan berbagi kepada sesama
Kita bisa membeli di warung yang dekat dengan rumah kita dengan niat untuk beramal dan berbagi kepada sesama warga Negara Indonesia. Dengan niat ikhlas kita untuk beramal, maka tentu saja kita akan merasa lebih enjoy mengeluarkan uang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu kita bisa membiasakan diri untuk bersedekah.
3. Hilangkan gengsi pada diri
Kebanyakan orang merasa gengsi ketika barang-barang yang dimiliki tidak berlabel mahal, sedangkan teman dekatnya semua memakai barang-barang mewah. Sebagai orang Indonesia kita bisa memilih barang-barang yang bernuansa mewah, namun kita harus jeli terhadap barang tersebut.
Sebisa mungkin marilah kita membeli dari produk-produk asli Indonesia. Dengan demikian kita akan meningkatkan perekonomian indonesia.
Selamat berbelanja!
Baca juga: Daftar Kampus Jurusan Perhotelan dan Pariwisata di Indonesia
