Bernas.id – Bencana alam kembali melanda negeri akhir-akhir ini. Letak kepulauan Indonesia yang berada di perbatasan lempeng tektonik dan banyaknya gunung berapi aktif membuat negeri ini sering mengalami gempa bumi. Dalam lima belas tahun terakhir telah banyak sekali gempa yang terjadi di negara kita, mulai gempa dan tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, gempa di Padang dan gempa di Mentawai. Akhir tahun lalu, gempa bumi juga terjadi di Tasikmalaya. Kemudian Lebak, Banten, dan Jakarta digoncang gempa beberapa hari berturutan.
Rentetan bencana alam yang telah terjadi tentu berdampak pada kehidupan. Berkaca pada gempa yang pernah terjadi di Aceh dan Yogyakarta. Selain berdampak pada infrastruktur dan perekonomian, gempa juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik serta mental. Gangguan trauma pascabencana adalah sebuah kondisi gangguan kesehatan pada mental yang dipicu oleh sebuah kejadian mengerikan, seperti gempa bumi atau bencana lainnya.
Kejadian trauma ini bisa muncul akbibat dari kejadian yang pernah dialami sendiri maupun kejadian yang disaksikan langsung oleh seseorang. Adapun gejala-gejala gangguan trauma pasca bencana yang timbul, di antaranya: Sering teringat atau terbayang kejadian yang memicu trauma. Pada penderita biasanya mengalami gangguan tidur dan sering memimpikan kejadian tersebut. Merasa cemas, kesulitan fokus dan mudah sekali marah. Gangguan trauma pascabencana merupakan salah satu gangguan psikologis yang paling sering terjadi pada anak, remaja, dewasa, bahkan pekerja medis yang terpapar pada bencana.
Banyaknya korban, cedera fisik hingga meninggalnya sanak saudara saat bencana terjadi menjadi salah satu faktor penyebab gangguan trauma. Selain itu, kurangnya dukungan sosial dan tingkat pendidikan juga turut andil memberikan kontribusi dibalik gangguan trauma pascabencana.
Sebuah penelitian di Cina menyatakan bahwa setelah gempa melanda salah satu daerah di Cina yang terjadi pada tahun 2008, dalam bulan pertama 62,8% penduduk mengalami gangguan trauma pasca bencana, dan setelah satu tahun, 26,3% penduduk masih mengalami trauma. Ketika dibandingkan dengan pria, ternyata wanita lebih rentan mengalami gangguan trauma pascabencana.
Gangguan trauma pasca bencana memiliki tingkatan yang berbeda-beda, mulai dari gangguan ringan hingga berat. Perhatikan dan waspadai jika ada anggota keluarga, saudara, teman atau orang-orang terdekat Anda yang mengalami gejala seperti di atas. Bila ada orang terdekat Anda yang mengalami gejala tersebut, segeralah berkonsultasi dengan pihak pelayanan kesehatan setempat. Penanganan yang tepat untuk meringankan dan mengobati meliputi psikoterapi, terapi relaksasi, dan obat-obatan jika diperlukan.
Dukungan keluarga dan dukungan sosial sangat membantu untuk mencegah dan memperbaiki gejala yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan trauma pascabencana. Maka, jika ada orang-orang terdekat kita yang mengalami gejala tersebut, berikan dukungan dan rasa aman kepada mereka agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi musibah tersebut.
