Bernas.id – Di zaman serba instan ini, kadang orang mengesampingkan mutu suatu barang. Yang penting, cepat sampai dan segera digunakan.
Begitu juga dengan kehadiran makanan, makanan cepat saji, makanan instan, sering jadi pilihan ketika kita sedang terburu-buru. Dan bahayanya, gaya hidup seperti ini dianut oleh kita di generasi X (tahun kelahiran 1961-1980) , generasi Y (tahun kelahiran 1981-2000) dan anak anak generasi Z (tahun 2001-2010).
Mereka semakin fasih menggunakan aplikasi online untuk membeli makanan yang sangat beragam pilihannya, tapi belum jelas nilai gizinya.
Tanggal 25 Januari 2018 adalah Hari Gizi Nasional dengan tema Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat dan Berprestasi masih menjadi fokus tema peringatan hari gizi nasional ke 58 ini.
Untuk menyosialisasikan tentang makanan bergizi, dan menumbuhkan kesadaran bangsa untuk makan makanan bergizi, maka “PR” ( pekerjaan rumah) bangsa kita sekarang semakin banyak.
Persoalan gizi buruk yang tersimpan dari zaman generasi baby boomer (generasi yang lahir kurang dari tahun 1960) masih belum tuntas, berlomba dengan kecanggihan zaman generasi Alpha (tahun kelahiran 2010-sekarang ) yang dapat memperoleh makanan dengan mudah dan instan.
Karena kasus kekurangan gizi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat menengah ke bawah, tapi menengah keatas juga bisa mengalaminya. Bagaimana caranya agar kita bisa memilih, memilah dan menghasilkan serta mengusahakan makanan bergizi, yang bisa menjadi asupan makanan kita setiap hari?
Mungkin kembali pada cara hidup baby boomer yang memilih bahan makanan yang berasal dari alam dan mengolah makanan dengan cara yang benar bisa menjadi pilihan.
Memakan makanan instan hanya untuk makanan selingan ketika waktu yang dibutuhkan benar-benar mendesak.
Memilih bahan makanan yang minim zat kimia dan minim pengolahan dengan cara diawetkan, sehingga nilai gizi yang didapat masih banyak dan bisa memenuhi kebutuhan gizi kita.
Tidak perlu makanan mewah. Karena sumber protein dari tempe juga bisa setara dengan dan bahkan lebih tinggi dari daging sapi. Belum lagi ada tahu dan telur yang dapat dibeli dengan harga terjangkau untuk mencukupi kebutuhan protein kita. itu baru berbicara tentang protein, belum sayuran dan buah.
Jadi sebenarnya, bukan ketidaktersediaan bahan bergizi di Indonesia ini yang menjadi masalah, tapi lebih kepada kesadaran kita untuk memilih makanan bergizi sebagai sumber energi dan kesehatan kita setiap hari.
Indonesia hadir dengan kekayaan alam yang berlimpah, saatnya kita mengolahnya menjadi makanan bergizi dan membuktikan, Indonesia bisa berubah lebih baik dan memberantas kekurangan gizi yang ada.
Mari bersama menyambut Hari Gizi Nasional, dengan meningkatkan kesadaran makan makanan bergizi setiap hari, kebiasaan baik yang diturunkan dari generasi ke generasi , menjadi bangsa yang sehat dan berprestasi.
