Bernas.id – Apakah benar keputusan Presiden Joko Widodo menunjuk Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham, menjadi Menteri Sosial adalah ancang-ancangnya menghadapi Pilpres 2019?
Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Muhammad Asfar mengungkapkan satu kursi tambahan untuk Golkar di Kabinet Kerja mengukuhkan kerja sama politik antara Jokowi dan partai beringin (dikutip dari bbc.com).
Dr. Drs. M. Idrus Marham, MSc. dilahirkan di Sempang, Mattiro Ade, Patampanua, Pinrang, Sulawesi Selatan pada 14 Agustus 1962. Politisi yang awalnya seorang akademisi, pada 8 Juni 2011 mengundurkan diri sebagai anggota DPR-RI untuk periode 2009-2014, karena menjabat posisi Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya (Golkar).
Golkar kini memiliki tiga wakil di pemerintahan. Selain Idrus, terdapat Airlangga yang merupakan Ketua Umum Golkar duduk sebagai Menteri Perindustrian dan Luhut Pandjaitan, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Golkar yang menjabat Menko Kemaritiman. Rapat pimpinan nasional Golkar pada Desember 2017, memutuskan akan mendukung Jokowi dalam pilpres tahun depan.
Menghadapi Pilpres 2019 tentu Presiden Jokowi ingin memperkuat posisinya, bertambahnya dukungan kepadanya dengan masuknya Golkar dalam “lingkaran” partai pengusungnya menambah “angin segar” kemenangan, turunnya elektabilitas partai Golkar akibat kasus yang melanda eks Ketua Umumnya tak cukup menjadi alasan bagi Jokowi untuk mengabaikan partai beringin ini. Bagi Golkar, jabatan Idrus Marham di Kabinet Kerja dapat dijadikan sebagai rangkaian pembentukan citra baru di bawah Ketua Umumnya saat ini jelang Pemilu 2019.
Melangkah ke masa lalu, Idrus Marham dan Golkar dahulu pernah berseberangan dengan Jokowi. Idrus menjadi koordinator Koalisi Merah Putih di Pilpres 2014, menjadi salah satu tokoh yang vokal mengkritik Jokowi dan pemerintahannya.
Sungguh berbanding terbalik dengan posisinya saat ini yang tentunya “harus” mendukung sepenuhnya kebijakan Presiden Jokowi. Begitu pula dengan Golkar, sebelumnya menjadi bagian dari barisan “musuh” kini “bertekuk lutut” dalam kekuasaan Jokowi.
Betapa mudahnya mengubah haluan, yang awalnya melawan arus lalu sekarang mengalir mengikuti arus. Ketika kepentingan pribadi dan golongan menjadi tujuan utama maka posisi yang dulunya berseberangan dapat seketika menjadi teman dan rekan. Ini terjadi dalam dunia politik.
“Taring dan kuku” yang pada mulanya selalu mencabik dan mencengkeram kini tumpul dan terbelenggu, masih dapatkah jiwa “pemberontak” di dalam diri Idrus Marham menyembul ke permukaan jika dalam perjalanannya bersama Jokowi ada hal-hal yang tidak sejalan dengan nuraninya?
Ini akan menjadi “sejarah” jika memang terjadi karena dalam dunia politik ini akan berbahaya bagi dirinya dan Golkar.
