Bernas.id – Masjid legendaris yang terletak di jalan Jogokariyan 36 kelurahan Mantrijeron kecamatan Mantrijeron Kota Jogja ini sudah sangat terkenal hingga seluruh Indonesia. Masjid yang dibangun pada tahun 1966 dan digunakan setahun setelah masa pembangunan ini salah satu masjid yang bersejarah di kampung Jogokariyan. Selain itu masjid yang dibuka pada masa kepemimpinan Hamengku Buwono ke IV ini memiliki strategi yang unik agar para masyarakat muslim di wilayah Jogokariyan sadar akan pentingnya salat berjemaah. Berikut hal yang mampu ditiru dari strategi masjid Jogokariyan:
Manajemen dan Kemakmuran
Masjid yang tak jauh dari kampus UGM ini sudah biasa dengan kegiatan study banding dari luar daerah.
Infak Rp0,00
Tidak seperti masjid pada umumnya yang membacakan jumlah infak berjuta-juta, masjid Jogokariyan selalu mengumumkan infak mendekati Rp0,00. Hal ini dilakukan karena akan menyakiti hati saat ada sebagian warga yang sakit namun tak bisa ke rumah sakit karena tak memiliki biaya, dan sebagainya. Infak tersebut digunakan untuk membantu para masyarakat yang sakit dan kurang mampu.
Jemaah Mandiri – Para DKM masjid Jogokariyan telah memperhitungkan dana operasional selama satu tahun dan dibagi dengan jumlah minggu pada satu tahun, lalu dibagi lagi dengan kapasitas masjid yang mampu menampung sekian jemaah. DKM menyatakan bahwa dari seorang jemaah, masjid Jogokariyan hanya membutuhkan infak Rp1.500,00 setiap pekannya. Apabila jemaah infak Rp1.500,00 maka ibadahnya tidak disubsidi DKM, sedangkan jika kurang dari Rp1.500,00 maka ibadah seseorang tersebut disubsidi oleh masjid.
Undangan Salat – Kali ini undangan sama seperti undangan pernikahan biasanya, masjid Jogokariyan mengundang para jemaahnya untuk menghadiri salat secara berjemaah. Bunyi undangannya pun sangat mirip, lho. Seperti ini:
Kepada para muslim dan muslimah diharapkan kehadirannya pada;
Acara : Sholat Subuh berjemaah
Tempat : Masjid Jogokariyan
Waktu : 04.15 WIB
Database Jemaah – Selain ajakan salat subuh berjemaah, masjid Jogokariyan pun memiliki strategi khusus untuk mendisiplinkan masyarakatnya. DKM memiliki data-data berupa nama, pekerjaan, pendidikan hingga gaji para jemaahnya. Tak hanya itu, DKM pun mencatat tentang masyarakat yang sudah salat subuh atau belum, sering berjemaah atau tidak. Yang nantinya data tersebut akan menjadi grafik dari tren naik turunnya jemaah di masjid Jogokariyan.
Meskipun terkesan sangat sulit namun strategi-strategi tersebut mampu mengubah cara pandang masyarakat di wilayah tersebut. Lalu, apakah Anda akan melakukan hal yang sama di masjid daerah Anda? Semoga strategi dari masjid Jogokariyan mampu menjadi inspirasi para DKM masjid lainnya.
