Bernas.id – Perkembangan teknologi banyak membawa dampak positif dan negatif. Menurut bunda Rochma Yulika seorang da'iyah dan guru dari Yogyakarta, hal positif yang bisa dimanfaatkan terutama semakin memudahkan tersebarnya dakwah. Bila bicara dakwah tentu media sosial akan sangat membantu. Namun jangan sampai ada hal yang menyerang balik pribadi dakwah itu sendiri.
Bagaimana tidak, ibarat dunia tanpa batas bukan? Mudah sekali kita bercakap, saling berkomentar atau istilah kekinian adalah chatting. Apalagi bila hal itu terjadi antara manusia yang berbeda jenis kelamin. Mereka pada awalnya tak merencanakan hal buruk seperti bermaksiat kepada Allah. Namun setan akan mencari celah, karena di jalan dakwah pun segalanya bisa terjadi.
Sebagai pengusung kebaikan harus berhati-hati agar tak terjerumus kepada hal yang tak sepantasnya dialami oleh kader dakwah. Bagaimana adab ketika sedang menggunakan media sosial?
1. Berkatalah yang baik atau diam.
Ini mengacu pada nasihat Rasulullah bagaimana adab menjaga lisan. Karena sedikit hal yang tak baik akan berdampak besar dan merugikan. Selalu mengedepankan unsur kebaikan dan jangan ada keinginan untuk menjelekkan.
2. Selektif dalam menyebarkan informasi.
Banyak berita palsu dan bohong atau desas desus yang populer dengan sebutan hoax.
Semua butuh kehati-hatia dan perlu dicek validitasnya. Sehingga tidak asal bicara.
3. Hindarilah perdebatan meski kita dalam posisi yang benar.
Rasulullah bersabda, “Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada atas hidayah kecuali yang suka berdebat.” Kemudian beliau membaca ayat: “Mereka tidak memberi perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.”
4. Janganlah kita berkata dusta.
Terkadang untuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukan merelakan dirinya untuk berkata yang tak benar. Hal ini jelas melanggar syariat.
5. Meninggalkan hal yang tidak berguna.
Hal ini paling banyak terjadi di beberapa komunitas. Seolah bicara dakwah dan mengusung kebaikan tapi penjagaan akhlak Islami tidak terealisasi. Apalagi berada di majelis kebaikan maka sangat diharuskan menjaga etika Islami.
6. Jauhi pergunjingan, gosip dan membicarakan sesuatu di luar porsinya.
Terkadang kita lupa bagaimana adab tabayyun atau klarifikasi. Lebih mudah dikuasai emosi dan hawa nafsu sehingga memilih menggunjing dibanding mencari kebenarannya. Perlu ada edukasi dan peringatan secara terus menerus agar tak ada penyimpangan.
Tutur kata yang baik, perilaku yang sopan, bergaul sesuai dengan norma kesantunan. Semakin baik keislaman seseorang penjagaan dirinya semakin kuat. Menuntun lisan agar selalu berkata baik, menjaga adab yang sesuai syariat untuk keselamatan diri di akhirat nanti.
