Bernas.id – Maraknya pemberitaan proses pembuatan cabai bubuk yang berbahan baku cabai kering, lalu di jemur masal di lapangan, dengan ratusan kecoak dan tikus tanaman yang mengerumuni cabai tersebut membuat siapapun jijik melihatnya. Tak dipungkiri, permintaan cabai bubuk sebagai bumbu tabur dengan selera pedas, memang menjadi primadona mayoritas masyarakat Indonesia yang menyukai rasa yang tajam. Melihat peluang pasar yang besar, membuat masyarakat mencoba bisnis pembuatan cabai bubuk, yang memang mudah, bahan baku yang selalu tersedia, dan biaya produksi minim.
Sebelum maraknya cabai bubuk, industri UMKM yang menggarap saos botolan juga meraup untung yang signifikan. Sayangnya masih banyak produsen yang menggunakan bahan baku kurang baik, agar dapat menekan biaya produsi dengan harga produk yang dapat bersaing dipasaran. Saos botolan misalnya, yang menggunakan bahan cabai, ubi, tomat dan bahan dapur lain yang tidak segar. Bahan baku diambil dari pedagang pasar yang menyetor bahan diatas yang tidak laku dan mulai layu, lalu diolah menjadi saos-saos yang banyak ditemukan di pedagang bakso, siomay, mie ayam dan sebagainya di pinggir jalan. Parahnya bahan-bahan tidak segar di atas masih ditambah pengawet yang jelas tidak sehat bagi tubuh. Harga saos per botol luar biasa murah, namun memiliki omzet dan keuntungan yang luar biasa.
Konsumen sebenarnya sudah tahu edukasi ini dan memahami dampak buruk mengkonsumsi saos murah tersebut, namun seperti menutup mata dan telinga karena nafsu perut dan lidah yang sudah terbiasa, urusan sakit belakangan, yang penting perut dan lidah dapat yang diinginkan. Mungkin begitu moto konsumen Indonesia.
Fenomena saos murah yang berlalu namun tetap jadi primadona pedagang juga konsumen pinggiran, kini muncul fenomena baru. Cabai bubuk! Ya, siapa yang hari gini belum kenal primadona baru di jagat kuliner? Intinya adalah jajanan pedas dan murah. Tahu bulat, otak-otak, kentang, dan berbagai snack pinggiran lain sudah berjodoh dengan cabai kering ini. Hmm memang menggoyang lidah, namun siapa sangka pembuatan dan bahan produksinya juga tidak kalah buruk dari saos murah yang sudah dijelaskan di atas.
Bahan baku cabai yang terbuat cari cabai yang mulai membusuk dikumpulkan di lapangan untuk dijemur di bawah terik matahari, mengundang ratusan kecoak dan tikus tanaman. Kenapa? Ya karena cabai busuk tadi. Huff ? tahu juga kan? Air seni tikus yang berbau aduhai, selain memang menjijikan secara estetika, dalam pandangan medis juga sangat beresiko bagi kesehatan tubuh manusia.
Maraknya pemberitaan cabai bubuk yang buruk ini dapat diambil peluang usahanya dengan membuat cabai bubuk yang higienis, bebas tikus dan kecoak! Bagaimana caranya?
Bahan dan alat yang perlu disiapkan adalah:
- Cabai merah besar untuk rasa yang tidak pedas, cabai mercon untuk rasa yang super pedas
- Jintan
- Oven
- Blender
Cara membuat:
- Potong cabai menjadi dua bagian, dan keluarkan biji cabai, agar menghindari rasa yang pahit dari cabai bubuk nantinya.
- Masukkan ke oven cabai yang telah dibuang bijinya tadi hingga 3 sampai 4 menit dengan suku 150°C.
- Sangrai jintan selama dua sampai tiga menit.
- Dinginkan cabai yang telah dikeluarkan dalam oven, juga jintan yang telah disangrai.
- Blender kedua bahan tersebut.
Mudah, kan? Setelah itu masukan cabai bubuk ke dalam wadah-wadah kecil, jangan lupa beri merk ya! Tujuannya agar cabai bubuk lebih dikenali. Jangan lupa share cara pembuatan cabai bubuk yang higienis di sosial media tempat pejualan cabai bubuknya juga, ya! Agar konsumen percaya dan berebut membelinya.
Selamat mencoba!
