Bernas id – Guru, falsafah jawa mengartikan digugu lan ditiru. Pemberikan contoh dan teladan yang baik. Tak hanya itu, guru juga sebagai sumber inspirasi siswa. Tapi, setinggi apapun pendidikan guru dia tetaplah manusia biasa. Tempatnya salah dan lupa. Berikut kesalahan yang sering dilakukan guru ketika pembelajaran.
Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran
Proses pembelajaran harusnya dilakukan secara runtut atau sistematis. Kegiatan yang dilakukan berdasarkan rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam RPP dijelaskan secara rinci urut-urutan kegiatan tiap pertemuan. Tapi seringkali kegiatan lapangan berbeda dengan yang tertera di RPP. Misalnya dalam RPP tertulis, pembukaan ? kuis ? pemberian materi ? persentasi ? evaluasi ? tugas ? penutup, namun faktanya setelah pembukaan guru langsung memberikan materi persentasi.
Menunggu peserta didik berperilaku negatif
Sekolah adalah rumah kedua peserta didik, begitu juga dengan guru sebagai orang tua kedua. Pantas jika guru memberikan contoh serta arahan yang mendidik. Lebih baik mencegah dari pada mengobati, harus diberlakukan. Ketika guru melihat gelagat aneh dan mencurigakan langsung saja mengingatkan, dengan cara yang baik. Menunggu peserta didik berperilaku negatif sama seperti melihat pencuri tapi ingin memergoki dan menangkap langsung pencuri sedang beraksi. Apa pantas guru seperti itu?
Menggunakan destruktif disiplin
Destruktif sama artinya kesalahan. Kesalahan klasik yang menjengkalkan peserta didik. Contoh, diakhir pertemuan sebelumnya akan ada kuis, tapi nyatanya tidak jadi padahal peserta didik sudah belajar semalam suntuk.
Mengabaikan perbedaan peserta didik
Seorang guru memiliki empat kompetensi, satu di antaranya kompetensi pedagogik. Artinya guru wajib mengetahui latar belakang serta karakter masing-masing peserta didik. Karena kebutuhan setiap peserta didik berbeda. Karakter dan background peserta didik ini menjadi acuan guru memilih metode atau gaya belajar.
Merasa paling pandai
Zaman sudah modern. Begitu juga peserta didik zaman sekarang. Lebih modern dan canggih dari gurunya. Berkembang pesatnya IPTEK memudahkan akses mendapat informasi. Anak zaman sekarang cepat menangkap informasi atau isu terkini. Intinya lebih update daripada gurunya. Kadang guru tidak terima bila ada peserta didik lebih tahu dari dirinya. Misalnya tidak mau menerima pendapat anak didiknya.
Tidak adil
Semua tujuan orang tua menyekolahkan anaknya agar mendapatkan ilmu. Tapi guru punya kecenderungan hanya pada anak-anak yang pandai atau yang dekatnya. Padahal materi ataupun ilmu yang didapatkan peserta didik harusnya sama. Anak didik yang kurang pandaipun perlu diperhatikan.
Sadar atau tidak guru sering melakukan kesalahan ketika mengajar. Dengan demikian guru harus segera memperbaiki kesalahan untuk penerus generasi bangsa yang lebih baik.
