Bernas.id ? Dari setiap diri seseorang tentu pernah merasa bangga terhadap pencapaian sesuatu dalam hidup. Kebanggaan itu terkadang yang muncul menjadi sebuah pernyataan dalam diri merasa lebih baik dari orang lain pada hal tertentu. Tuhan menciptakan manusia bermacam-macam dengan paket komplit, ada kelebihan dan ada juga kekurangan keduanya saling melengkapi. Contohnya saja merasa lebih cantik, lebih pandai, lebih menarik, bahkan lebih beruntung dari orang-orang di sekitarnya. Merasa demikian terkadang hanya sebuah ilusi, tolak ukur yang dibuat oleh manusia sendiri. Pada masanya akan termakan oleh waktu.
Merasa merupakan sebuah ukuran berdasarkan diri sendiri sebagai penilainya. Terlalu banyak ?merasa lebih? justru terkadang menjatuhkan diri sendiri. Akhirnya orang lain akan melihat sebersit kesombongan melalui ?merasa lebih? tersebut. Sombong di hadapan orang lain tentu sudah bisa dilihat oleh orang lain juga. Orang yang sombong akan terlihat dari tingkah laku dan cara bicaranya. Umumnya orang dengan model seperti itu akan mendominasi dalam pembicaraan dengan banyak menyebut dirinya sendiri, dibandingkan mendengarkan yang orang lain katakan. Antara mendengarkan dan berbicara lebih banyak dominan berbicara.
Ada macam kesombongan lain yang tidak terlihat, yaitu merasa lebih baik yang hanya terucap dalam hati saja. Tidak terlihat tetapi dampaknya sama bahayanya dengan kesombongan yang terlihat. Seperti merasa lebih baik dari orang lain dalam hal ibadah. Secara tidak langsung merasa lebih baik dalam hal ibadah, bisa dikatakan bahwa menganggap orang lain lebih buruk darinya. Kerugian yang lain yang akan didapat adalah tidak diterimanya ibadah itu sendiri, sia-sia saja.
Merasa lebih baik dalam kejujuran itupun sangat berbahaya dampaknya bagi orang lain. ketika ada seseorang yang mengatakan ?Masih lebih baik aku, meskipun jahat dan buruk tetapi aku jujur pada semua orang?. Kalimat yang demikian itu yang bisa meracuni orang lain. Kejahatan itu sendiri sudah bersifat buruk, tidak selayaknya bangga akan kejahatan yang diperbuatnya sehingga harus sampai bangga berkata jujur. Yang ditimbulkan dari ekspresi yang demikian pada orang lain bahwa, orang lain harus mengapresiasi dirinya yang berbuat buruk, karena sudah berkata jujur. Menganggap biasa sesuatu yang buruk dan memakluminya bahkan membanggakannya merupakan suatu kerusakan yang nyata.
Jangan sampai mentoleransi diri sendiri sekalipun sudah berbuat keburukan, jika dibandingkan dengan keburukan yang lebih buruk. Jangan merasa lebih baik jika dalam suatu keburukan dibandingkan yang lebih buruk lagi.
