Bernas.id – Anak-anak zaman now bisa juga disebut dengan generasi digital native, yaitu anak-anak yang terlahir di era digital pada saat ini dan sudah terpapar teknologi sejak lahir.
Sebagai generasi digital native, anak-anak ini begitu cerdas dalam kreativitas dan perkembangannya begitu cepat dalam menerima dan menangkap informasi. Bahkan para orangtuanya mungkin mengenal teknologi pada saat mereka memasuki usia remaja. Namun beda halnya dengan anak zaman now, pertumbuhan di masa kecilnya telah akrab dengan teknologi, bahkan sudah banyak pula dari mereka menjadi pengguna aktif media sosial.
Dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Komisaris anak yaitu Anne Longfield, mengemukakan bahwa telah banyak anak-anak yang mengukur status mereka melalui media online yaitu dengan banyaknya jumlah like dari postingan mereka di media sosial.
Dari hasil penelitiaannya terhadap anak-anak, Anne menjelaskan bahwa anak usia 8 sampai 10 tahun merasa bahagia saat status dan postingannya di media sosial banyak yang menyukainya. Kemudian pada saat mereka menginjak usia 10 sampai 12 tahun, mereka mulai khawatir dengan jumlah orang yang menyukai status mereka.
Dari fakta yang dikemukakan tersebut dapat kita pahami bahwa anak-anak zaman now selalu berusaha menjaga citra dan meningkatkan harga diri mereka melalui eksistensinya di kehidupan dunia maya yang di sana banyak orang asing yang hadirnya tidak berada di dunia nyata mereka. Bahkan Anne pun mengatakan generasi digital native tersebut seringkali membanding-bandingkan diri mereka dengan kehidupan orang lain yang seringkali tidak realistis. Mereka seringkali mengkhawatirkan citra dan penampilan mereka. Hal ini jelas memengaruhi dan merusak kepercayaan dan perkembangan mereka sebagai individu.
Media sosial yang menjadi bagian yang terus berkembang dari teknologi ini memang tidak bisa dihindari dan dipisahkan dari generasi digital native, namun bagi para orang tua tetap bisa dan selalu ada cara untuk menyikapi dengan bijak terhadap anak-anak yang terlanjur menjadikan medsos sebagai fokus kesenangannya. Salah satunya adalah dengan selalu mendampingi anak dalam menggunakan gadget, bangun komunikasi dan pemahaman yang tepat kepada anak. Juga dengan cara membangun kepercayaan kepada anak tentang siapa dirinya, potensi dan kelebihannya, sehingga mereka tumbuh menjadi diri sendiri dan tidak disibukkan dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.
