Bernas.id – Kita tentu masih ingat dengan pelajaran fisika tentang hukum kekalan energi atau yang biasa dikenal juga Hukum Termodinamika yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan tidak dapat dipindahkan hanya dapat dirubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.
Artinya besarnya energi akan sama besarnya hanya bentuknya saja yang berbeda, misalnya baterai yang didalamnya terdapat batang arang atau dari energi kimia dirubah menjadi energi listrik yang memberi daya pada alat eletronik.
Dalam kehidupan alam semesta sumber energi ini bisa berbentuk apa saja angin, uap, air bahkan emosi atau perasaan manusia. Termasuk perasaan kita ternyata suatu bentuk energi dalam kehidupan, luar biasa bukan?
David R. Hawkins, MD., Ph.D., dalam riset disertasinya menemukan bahwa perasaan atau emosi mempunyai level vibrasi dan energi yang berbeda. Beliau memetakan level energi dari masing-masing emosi menjadi The Map of Consciousness. Menurut beliau, semakin tinggi level energi suatu emosi maka akan semakin baik bagi kualitas kehidupan seseorang baik pada aspek pencapaian duniawi maupun spiritual.
Level energi ini dinyatakan dalam satuan 10 pangkat X. “X” di sini adalah angka yang dimulai dari 0 (kematian) dan terus naik hingga 1.000 (pencerahan). Semakin kuat perasaan atau emosi yang kita rasakan semakin tinggi pula level energi yang dimiliki. Titik tolaknya di 10 pangkat 200 yaitu emosi “berani”. Ini adalah level energi untuk memulai perubahan. Dari level “berani” bila turun, maka ada emosi bangga (175), marah (150), nafsu keinginan (125), takut (100), kesedihan mendalam (75), putus asa / apatis (50), rasa bersalah (30), dan rasa malu (20).
Terkadang energi perasaan yang dimiliki tersebut terlihat tidak masuk akal namun terbukti adanya misalnya kita tercengang saat ada berita tentang seorang wanita yang begitu kuat mengangkat sebuah mobil seberat 3 ton karena mencoba menyelamatkan ayahnya saat hendak terlindas. Hal tersebut sepertinya memang tidak mungkin terjadi dalam keadaan normal tapi energi itu ada dan begitu besar sebesar perasaan anak wanita ini kepada sang ayah.
Belum hilang dari ingatan juga kisah sorang balita yang mencoba mengangkat lemari untuk menolong kembarannya yang tertimpa lemari besar. Secara akal sehat kita pasti berpikir tidak mungkin, balita yang sebegitu lemah berdiri saja dengan kokoh saja belum mampu bagaimana bisa mengangkat sebuah lemari. Meskipun masih balita tetap saja memiliki energi yang besar karena rasa kasih sayang terhadap saudaranya. Rasa sayang atau ?emosi? inilah yang kemudian dirubah menjadi kekuatan yang dahsyat yang bisa digunakan untuk membantu dan melindungi orang orang yang kita sayangi.
Selain rasa sayang, rasa sedih, galau, marah, takut juga merupakan energi dari perasaan yang kita miliki. Besaran energi dan kekuatannya tentu tergantung kuat lemahnya perasaan yang dimiliki itu sendiri, namun yang membedakan adalah bentuknya. Kasih sayang, cinta kasih, passion, keingintahuan, bahagia, rasa bangga adalah energi positif yang sifatnya membangun sehingga baik untuk kita miliki bahkan perlu kita pupuk.
Sebaliknya perasaan sedih, galau, takut, marah adalah energi perasaan yang bentuknya negatif yang bersifat merusak pemiliknya jika kita terlalu larut di dalamnya. Seperti menurut seorang ahli epidemiologi Elizabeth Mostofsky yang menyatakan bahwa dukacita, kesedihan, kecemasan dan kemarahan terbukti dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah dan perubahan dalam darah sehingga dapat membuat darah membeku, dimana itu semua menjadi pemicu serangan jantung.
Stres jangka panjang dan bisa memicu paparan kortisol (hormon stres) yang dapat menyebabkan jantungan, gugup, serta masalah metabolisme, dan masalah kekebalan tubuh lainnya. Bukan hanya itu kesedihan berkepanjangan juga dapat memicu kanker dan depresi
Agar energi negatif ini tidak merusak dalam kehidupan kita ada baiknya coba kita alihkan bentuk energi ini dalam bentuk kegiatan yang positif seperti membaca, menulis atau coba berolahraga.
