Bernas.id – Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa dalam waktu dekat ini, pemerintah akan mengimpor beras 500.000 ton. Hal ini dinyatakan saat kunjungan kerja beliau di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (15/1/2018). Menurut beliau, impor beras akan memperkuat cadangan beras sehingga harga beras di daerah-daerah akan lebih stabil.
Menurut pemerintah, cadangan 500.000 ton beras tersebut hanya untuk dua pekan saja. Selanjutnya beras dapat dipenuhi dari rencana panen padi yang diperkirakan mulai pertengahan bulan Februari 2018. Dengan demikian, impor beras ini tidak akan mengganggu petani yang akan panen.
Tentunya dengan kebijakan impor pemerintah ini ada yang pro dan kontra. Masing-masing mempunyai latar belakang pemikirannya. Namun, jika harga beras terus melambung tinggi dan langka, kira-kira adakah pengganti beras sebagai salah satu bahan dasar untuk membuat nasi?
Beras Analog
Beras analog nama lain dari ?pengganti beras? yang berbahan baku tepung singkong, tepung jagung, tepung terigu dan lainnya, sudah banyak diujicobakan oleh tenaga ahli untuk dijadikan alternatif pengganti beras. Namun dikarenakan cara pemrosesan dan bentuknya tidak sama dengan nasi yang biasa dimakan sehingga beras analog tersebut kurang populer.
Sejak tahun 2014, telah ditemukan dan dikembangkan oleh salah satu putra Indonesia yaitu Prof. Dr. Slamet Budijanto berupa beras analog dari bahan baku umbi-umbian. Karya besar ini dibuat melalui penelitian yang dilakukan sejak tahun 2012 dengan metode hot extrusion.
Beras analog yang diciptakan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) produk harus dapat diterima luas oleh masyarakat; (b) tidak mengubah cara mengkonsumsi nasi; (c) cara memasaknya sama, atau kalau bisa lebih mudah, (d) dapat diolah untuk makanan lain selain nasi layaknya beras; (e) mempunyai sumber karbohidrat; (f) harganya kompetetitf dengan harga beras. Dengan demikian, produk ini dapat dijadikan salah satu pengganti beras.
Daripada impor beras, lebih baik produksi beras analog
Bila dihubungkan dengan impor beras, alangkah baiknya beras analog ini menjadi salah satu alternatif. Hal ini tentunya akan meningkatkan pertumbuhan produksi tanaman pertanian lainnya selain padi. Ujung-ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.
