Bernas.id – Memilukan, ketika menyaksikan para korban ambruknya selasar di tower II gedung BEI, di kawasan Sudirman Central Bussines District (SCBD), Jakarta pada Senin (15/1/2018). Teriakan ketakutan dan rintihan dari para korban menghiasi gedung tersebut. Berdasarkan keterangan Direktur Utama BEI, Tito Sulistio yang dikutip dari Tribunnews.com bahwa jumlah korban sekitar 20 orang.
Sebagian besar adalah mahasiswi Universitas Bina Darma Palembang, Sumatera Selatan, yang sedang berkunjung dalam rangka kegiatan ASEAN Exchange. Dari rekaman CCTV yang beredar, rombongan mahasiswa yang berjumlah sekitar 30 orang dari Universitas Binadarma Palembang berdiri bergerombol di Mezzanin Tower II Gedung BEI saat ambruk pada menit 11:56:42.
Selasar sepanjang 30 meter dan lebar 2 meter yang digunakan untuk berjalan itu tidak memiliki tiang penyangga. Diberitakan oleh detik.com bahwa Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Polisi Setyo Wasisto mengatakan bahwa pihak kepolisian telah memintai keterangan pengelola gedung. “Gedung ini dari 1997-1998 sampai saat ini, tidak pernah ada renovasi ataupun bangunan tambahan,” ujar Setyo di Gedung BEI, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (15/1/2018). Namun pengelola gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Cushman Wakefield menegaskan selalu memenuhi persyaratan dalam kelaikan gedung. Menurut Direkturnya, Farida Riyadi bahwa setiap tahunnya selalu dilakukan pemeriksaan gedung dan tidak ada aturan yang disalahi.
Lalu ambruknya selasar ini salah siapa? Ketika polisi mengindikasikan kejadian ini karena belum adanya renovasi sejak tahun 1997 namun di sisi lain pihak pengelola gedung menampik alasan tersebut dengan dalih adanya pemeriksaan rutin atas kelaikan gedung. Di luar konteks kekuatan bangunan selasar tersebut, ada faktor yang kadang terlupakan oleh manusia apalagi jika mengandalkan kemajuan teknologi dan kecanggihan alat yang mereka gunakan, terdapat kekuatan dan kehendak Allah yang pasti terlaksana.
Dengan kekuasaan-Nya yang menyeluruh maka sehebat apapun buatan manusia jika Allah ingin menghancurkannya maka dengan mudah itu terwujud. Apa yang Allah kehendaki niscaya itu akan terjadi karena kekuasaanNya tidak terbatas, begitu pula sebaliknya apa yang tidak Allah kehendaki maka tidak akan pernah terjadi, bukan karena Allah tak kuasa melakukannya tetapi karena Allah tidak menghendakinya, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah.” (QS. Yaasin:82).
“Dan jika Kami kehendaki niscaya Kami berikan setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetapkan perkataan (ketetapan) dari-Ku, pasti akan Aku penuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As Sajdah:13).
Maka sebagai muslim yang baik, kembalikan pada Allah segala apa yang terjadi dalam perjalanan kehidupan kita, berusaha dengan sungguh-sungguh mencapai yang ditargetkan namun pasrahkanlah hasilnya pada keputusan Allah.
