Bernas.id – Hari minggu biasanya menjadi hari bersama keluarga. Banyak orang yang lebih memilih tinggal atau bepergian dengan keluarganya karena kesibukan dihari senin hingga sabtu. Tapi tidak dengan seratus orang lebih yang meluangkan waktu untuk menghadiri Festival Trainer Nasional (FTN) di Gedung Titan Centre, Minggu pagi tanggal 7 januari 2018 kemarin.
Pukul delapan pagi, lokasi telah ramai para peserta yang ingin memetik ilmu dari lima pembicara dahsyat jebolan Akademi Trainer yang didirikan oleh Jamil Azzaini. Ternyata tidak hanya di Gedung Titan Centre saja, tetapi acara serupa juga diadakan di beberapa kota, bahkan melibatkan 200 trainer.
Acara Festival Trainer Nasional ini menjadi penanda bahwa Akademi Trainer ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk Indonesia melalui karya-karyanya. Seperti pesan Kek Jamil, sapaan akrab Jamil Azzaini, kita hidup dan mencari nafkah di Indonesia dan sudah sepatutnya kita juga memberi manfaat untuk Indonesia. Bukan zamannya lagi kita hanya bisa menuntut, menjelek-jelekkan bahkan merendahkan Indonesia.
Ada beberapa hal yang menarik dari penyelenggaraan Festival Trainer Nasional kemarin yang mengusung tema “World Class Presenter”, yaitu:
Tepat Waktu
Acara dimulai sesuai jadwal yaitu pukul 08.30 WIB, tidak mundur semenit pun. Ini luar biasa, mengingat Indonesia terkenal dengan budaya ngaretnya. Tidak hanya panitia dan pembicaranya, para pesertanya pun datang tepat waktu. Ini menandakan bahwa pihak penyelenggara dan peserta saling menghargai satu sama lainnya.
Murni keilmuan, bukan jualan
Mungkin ada yang pernah menghadiri seminar-seminar bisnis atau motivasi dengan tiga, lima, bahkan sepuluh pembicara. Apa isinya? Materi yang disampaikan sebagai daya tarik untuk memancing minat para peserta untuk tahu lebih dalam. Dan ujung-ujungnya, di akhir sesi akan ada penawaran seminar atau pelatihan yang diadakan si pembicara dengan harga jutaan rupiah. Namun hal itu tidak terjadi di acara Festival Trainer Nasional kemarin. Setiap pembicara membagikan materi sesuai ilmu yang mereka kuasai dan tidak ada penawaran apa pun di ujung sesi setiap pembicara.
Profesional
Walaupun peserta hanya mengeluarkan investasi sebesar Rp99.000, tapi penyelenggaraan acara ini sangat profesional layaknya acara senilai jutaan rupiah. Disiapkan dengan baik dan rapi. Mulai dari host-nya yang dapat mencairkan suasana hingga peserta betah duduk berlama-lama dan tidak mengantuk, hingga pembicaranya yang membawakan materi dengan santai tetapi mengena di hati. Ini menandakan jam terbang yang tinggi dari setiap pembicara. Materi presentasinya juga disajikan dalam bentuk slide yang dapat diterima dengan baik oleh peserta.
Selain tiga hal tersebut, penyampaian materi oleh para trainer juga patut diacungi jempol.
Diawali oleh Ustadz Vahruddin Jayadi yang biasa dipanggil Ustaz Jay, seorang Motivator Quran yang menyampaikan bagaimana berbicara yang menghidupkan. Dilanjutkan oleh Ari Wijaya dengan brand Cost Killer. Vice President di Elnusa yang telah menerbitkan buku ini menyampaikan tentang pentingnya kolaborasi dan berbagi (Collaboration & Sharing) sesuai keahliannya di supply chain. Selain itu, ada pula seorang enterprener muda, CEO dari Inspirator Academy dan beberapa perusahaan lainnya yang telah melahirkan ratusan penulis, Brili Agung. Authormaker Writing Mentor ini membuka cakrawala para peserta bahwa profesi penulis itu memiliki prospek yang sangat menjanjikan dan dapat membuat hidup kaya raya hanya dengan menulis.
Andy Sukma Lubis menjadi pembicara selanjutnya. Seorang Slide Designer handal ini membagikan ilmunya tentang kiat-kiat melukis slide dengan hati. Acara seru ini pun ditutup oleh Leadership Charisma Guru yaitu Fay Irvanto yang berbagi ilmu menjadi seorang pemimpin yang berkharisma.
Lima pembicara dengan lima ilmu yang berbeda bersinergi dan fokus mengarah kepada satu hal, yakni tentang bagaimana kita dapat naik kelas menuju kelas dunia. Wajar jika para pesertanya terhipnotis oleh ilmu-ilmu yang dibagikan hingga semangatnya menjadi terbakar. Semoga acara seperti ini dapat terus diadakan secara rutin sehingga banyak orang yang tercerahkan dan hidupnya menjadi lebih baik.
