Bernas.id ? Isu penggunaan senjata kimia kembali muncul di tengah-tengah berlangsungnya perang saudara Suriah. Reuters mengabarkan kalau sejumlah penduduk di Ghouta menunjukkan gejala-gejala terpapar gas klorin.
Hal tersebut dipaparkan oleh Kementerian Kesehatan dari kubu oposisi Suriah pada hari Minggu (25/2/2018). Menurut informasi yang mereka dapat, para korban dan petugas kesehatan sempat mencium bau klorin seusai terjadinya ledakan di wilayah Ghouta timur.
Kelompok pengamat SOHR dari kubu oposisi membenarkan kalau seorang anak tewas tercekik usai terjadinya ledakan di Ghouta timur. Namun pihaknya masih belum bisa mengkonfirmasi apakah senjata kimia memang digunakan dalam peristiwa tersebut.
Video yang beredar di media sosial dan nampaknya diambil pasca terjadinya serangan menunjukkan mayat seorang anak yang dibalut kain berwarna biru. Di dekatnya, sejumlah pria terlihat mengalami kesulitan bernapas dan harus menggunakan alat bantu pernapasan.
Ghouta merupakan wilayah yang terletak di dekat ibukota Damaskus dan sekarang berada di bawah kendali pasukan pemberontak. Selama sepekan terakhir, pasukan pemerintah Suriah kian gencar melakukan serangan ke lokasi tersebut. Setidaknya 500 orang tewas akibat serangan yang menimpa Ghouta.
Kementerian Pertahanan Rusia membantah kalau pasukan pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia. Menurutnya, pasukan pemberontak sengaja menaruh muatan berbahan kimia supaya pasukan pemerintah terlihat seolah-olah menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil Ghouta.
Bukan sekali ini saja pasukan pemerintah Suriah dituduh menggunakan senjata kimia. Tahun lalu, hasil investigasi yang dilakukan oleh PBB dan lembaga antisenjata kimia OPCW menunjukkan kalau pasukan pemerintah Suriah menggunakan gas sarin saat melakukan serangan ke kota Khan Sheikhoun.
