Bernas.id – Bagi Anda yang mengelola bidang Sumber Daya Manusia tentunya memiliki strategi tentang pemberdayaan karyawan. Tujuannya tidak lain adalah agar tugas dan tanggung jawab masing masing karyawan sesuai dengan target perusahaan tempat kita bekerja.
Sebagai bagian yang bertugas dalam mengelola pemberdayaan karyawan, mengetahui misi visi perusahaan sudah menjadi hal dasar. Yang terpenting adalah menyelaraskan misi visi perusahaan dalam strategi pemberdayaan karyawan agar tujuan perusahaan tercapai. Terlebih saat ini setiap perusahaan memiliki banyak pesaing dan tentunya perusahaan yang memiliki nilai lebih yang akan menang di pasar.
?Nilai yang menjadi pembeda? bukan hanya kepada pelanggan dari perusahaan itu saja, namun juga kepada para karyawannya sehingga membuat ?betah, kreatif dan produktif. Bukan hanya strategi coaching councelling yang harus disesuaikan namun perlu juga menanamkan ketrampilan melayani bagi karyawan.
Mengapa hal tersebut menjadi penting?
Hal yang umum kita dengar adalah dalam model atau strategi dalam kaitannya dengan upaya pemberdayaan karyawan, antara lain yaitu dengan strategi Coaching dan councelling, model kepemimpinan situasional yaitu upaya untuk memberdayakan karyawan melalui peningkatan ?kemampuan dan kemauan? karyawan.
Proses coaching dan counselling seringkali dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Meskipun demikian, terdapat perbedaan yang mendasar di antara kedua proses ini. Sebagai proses yang bertujuan membantu karyawan agar bisa menunjukkan kinerja yang optimal, coaching dan counselling dibedakan berdasarkan jenis sumber masalah yang menghambat kinerja seseorang.
Coaching merupakan sebuah proses bantuan yang dilakukan ketika karyawan mengalami masalah kinerja yang disebabkan oleh keterbatasan pemahaman terhadap tugasnya. Sedangkan Counselling, merupakan proses bantuan yang dilakukan ketika karyawan mengalami masalah kinerja disebabkan oleh adanya masalah dalam kehidupan pribadinya.
Hal yang tidak kalah penting adalah keterampilan melayani. Budaya melayani sudah sulit ditemukan di era millennial ini. Semua orang sepertinya memiliki kepentingannya sendiri dan bersifat egois, padahal selesainya tugas di satu unit kerja belum tentu berpengaruh terhadap keberhasilan perusahaan secara keseluruhan. Perlu kesadaran semua pihak bahwa antara unit kerja yang satu dengan unit kerja yang lain perlu bersinergi, bahu membahu untuk mencapai kesuksesan bersama.
Salah satu materi pembelajaran keterampilan melayani diawali dengan membantu dan memberikan masukan atau feedback untuk meningkatkan kinerja unit yang bersangkutan dan meningkatkan kerja sama yang baik antar unit.
Kondisi yang banyak terjadi saat ini adalah unit kerja yang menyalahkan kinerja unit lain karena merasa unit kerjanya sudah mengerjakan ?tugasnya?. Padahal mungkin tujuan utama dari pekerjaan tersebut mungkin belum tercapai, misalnya pada perusahaan penjualan barang. Unit sales harus memastikan barang yang dipesan pelanggan dikirim dengan baik setelah pembayaran diterimanya. Karyawan pada unit sales harus bisa melayani, dengan memonitor pesanannya dan memberikan feedback kepada unit pengiriman jika mungkin ditemukan kendala.
Demikian juga pada unit pengiriman, karyawannya harus mau menerima masukan dan memberi feedback terkait perbaikan yang diinginkan agar tugasnya terselesaikan dengan baik. jika masing masing unit memiliki tanggung jawab yang sama dalam hal keterampilan melayani bisa dipastikan tujuan perusahaan akan tercapai.
Bukan hanya itu saja, dengan ketrampilan melayani ini akan diperoleh perbaikan kinerja perusahaan dan peningkatan keuntungan secara tidak langsung. Karena melalui sinergi antar unit kerja yang baik, pelanggan dari perusahaan tersebut akan terlayani dengan baik. Impactnya tentu saja terjadi pembelian berulang yang mendatangkan keuntungan baagi perusahaan.
