Bernas.id – Keputusan pemerintah untuk menghentikan sementara seluruh pekerjaan proyek infrastruktur dengan struktur layang (elevated) yang menggunakan beban berat, perlu kita apresiasi. Sepanjang bulan Agustus tahun 2017 hingga bulan Februari 2018 dalam catatan Bernas telah terjadi sebelas kali kecelakaan. Sepanjang kurun waktu itu telah menelan korban lima orang tewas dan lima belas luka-luka, serta 1 mobil rusak. Hal ini tentu membuat kita terenyuh. Apa yang menyebabkan kecelakaan beruntun tersebut? Apakah karena pekerjaan terburu-buru sehingga ada 'human error' atau memang karena kesalahan teknis.
Mari kita lihat,kesebelas kecelakaan tersebut. Pertama terjadi pada tanggal 4 Agustus 2017, dimana tiang penyangga proyek Light Rail Transit (LRT) terjatuh hingga menyebabkan seorang pekerja tewas. Kontraktor pelaksana adalah PT. Waskita Karya (Persero) Tbk. Berselang enam minggu kemudian, tepatnya tanggal 22 September 2017, jembatan proyek jalan tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi) ambruk menyebabkan satu orang pekerja tewas dan dua orang mengalami luka-luka. PT. Waskita Karya (Persero) Tbk sebagai kontraktor. Tidak cukup sebulan kemudian (29 Oktober 2017), lagi-lagi terjadi kecelakaan. Dimana grider proyek pembangunan jalan tol Paspro (Pasuruan-Probolinggo) jatuh. Lagi-lagi PT. Waskita Karya (Persero) Tbk pula sebagai kontraktornya. Kecelakaan ini menyebabkan seorang pekerja tewas.
Dua pekan kemudian, tepatnya pada tanggal 15 dan 16 November 2017 terjadi dua kecelakaan beruntun. Pertama pada tanggal 15 Nopember, beton proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta terjatuh dan menimpa satu mobil hingga rusak. Kontraktornya PT. Adhi Karya (Persero) Tbk. Sedangkan pada tanggal 16 November, crane proyek pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek II (elevated) jatuh. Tidak ada korban manusia.
Pada tanggal 9 Desember, berselang tiga minggu kemudian, juga terjadi kecelakaan dalam pembangunan proyek jembatan Ciputrapinggan. Gridernya terjatuh, tidak ada korban jiwa. Pelaksana proyek adalah PT. Bangun Pilar Patroman. Tidak cukup sebulan kemudian, kembali terjadi kecelakaan, tepatnya pada tanggal 30 Desember 2017. Grider proyek pembangunan jalan tol Pemalang-Batang juga jatuh, meskipun tidak ada korban jiwa. Kontraktornya adalah PT. Waskita Karya (Persero) Tbk.
Tiga hari kemudian, tanggal 2 Januari 2018, lagi-lagi grider pembangunan kontruksi simpang susun Antasari jalan tol Depok-Antasari (Desari) terjatuh.Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kecelakaan ini. Pelaksana proyek adalah PT. Grider Indonesia. Masih dalam bulan yang sama, yakni pada tanggal 22 Januari 2018 kembali terjadi kecelakaan. Dimana Box Grider LRT yang berada di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur roboh. Kecelakaan ini menyebabkan lima orang terluka. Pelaksana proyek adalah PT. WIKA (Persero) Tbk.
Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 5 Februari 2018, hujan yang turun lebat di Jakarta dan sekitarnya menyebabkan runtuhnya tembok underpass jalan Perimeter Selatan Bandara Soetta. Kecelakaan ini merenggut satu nyawa dan satu orang terluka parah. Pelaksana proyek adalah PT. Waskita Karya (Persero) Tbk. Masih dalam bulan yang sama, pada tanggal 20 Februari 2018, bekisting pierhead proyek jalan tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu) roboh hingga menyebabkan 7 orang terluka. Kontraktornya adalah PT. Waskita Karya (Persero) Tbk.
Dari semua kecelakaan di atas, dominan proyek tersebut dikerjakan oleh perusahaan pelat merah PT. Waskita Karya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena terburu-buru dikejar tenggat waktu sehingga mengabaikan kecermatan dan keselamatan, atau semata ada kesalahan manusia atau kesalahan teknis. Kesalahan manusia atau kesalahan teknis hanya bisa kita terapkan pada wilayah struktural. Masih ada wilayah lain yang kadang kita luput menelaah dan mengkajinya, yaitu wilayah suprastruktural. Ini berkaitan dengan masalah kebijakan, tanggungjawab dan distribusi kewenangan, hingga kualitas SDM. Kita berharap pemerintah tidak hanya sekedar menghentikan tapi mencari sebab utama kecelakaan tersebut. Bidang terkait harus dapat mempertanggujawabkan kecelakaan yang terjadi. Sungguh miris kita, karena terlalu banyak korban akibat kelalaian di atas. Kita tunggu evaluasi pemerintah tersebut. (Tajuk Harian Bernas, 22 Februari 2018)
