Bernas.id – Saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja ?.
Masih ingat petikan lagu yang dinyanyikan oleh Kla Project? Lirik tersebut tentu mengingatkan kita akan Jogja dan membuat penasaran bagi yang belum sempat ke sana.
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Pakualaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini terdiri atas satu kota dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan dan 438 desa/kelurahan.
Daerah Istimewa ini sering diidentikkan dengan kota Yogyakarta atau sering disebut dengan Jogja, Yogya, atau Yogyakarta. Walaupun memiliki luas terkecil kedua setelah Provinsi DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal baik di tingkat nasional dan internasional, sebagai tempat tujuan wisata andalan setelah Provinsi Bali. Selain tujuan wisata dan bermacam macam kuliner khas Jogja yang menggugah selera, tentu banyak fakta unik yang membuat para wisatawan selalu rindu, dan selalu ingin kembali lagi ke Jogja.
Apa saja fakta tentang Jogja yang membuatnya berbeda dan selalu dirindukan? Mari kita bahas bersama.
1. Orang Jogja terkenal ramah.
Keramahan warga jogja sudah terkenal sampai mancanegara, tidak heran kota ini menjadi destinasi wisata setelah Bali. Kesadaran warga Jogja untuk beramah tamah dan menghormati tata krama sudah sangat sulit ditemui di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat tidak sejalan dengan peningkatan moral yang ada sehingga keramahan, dan budi pekerti sudah menjadi barang langka. Namun tidak demikian di Jogja, kamu akan disambut dengan senyum ramah warganya tanpa membeda-bedakan kamu wisatawan lokal atau luar, tanpa mebedakan penampilan kamu ?berduit? ataupun tidak, kamu selalu diterima di Jogja.
2. Orang Jogja terkenal dengan Toleransi tinggi
Banyak yang bilang bahwa Jogja merupakan minatur dari Indonesia. Mengingat di Jogja bukan saja hanya terdiri dari orang-orang asli Jogja itu sendiri, tetapi banyak sekali perantau dari daerah lain. Hal tersebut sangat wajar mengingat Jogja sebagai kota pelajar, tentunya banyak pelajar atau mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Dari Sabang sampai Merauke. Sejak zaman dahulu ?Jogja? memiliki sikap toleransi yang tinggi, bukan hanya menghormati budaya dan berbagai karakter pendatang tetapi juga keragaman agama dan kepercayaan yang mereka anut.
Dengan berbagai macam perbedaan budaya, karakter, agama dan keyakinan tidak membuat warga Jogja merasa ingin menang sendiri. Justru semakin banyak bersinggungan secara langsung dengan keragaman, warga Jogja akan memiliki beribu alasan untuk tidak bertindak intolerant dan stereotyping.
Sikap ramah dan pola pikir bertoleransi inilah yang sepertinya harus ?diduplikasi? di semua wilayah di Indonesia, agar setiap orang tidak berpikiran mau menang sendiri, merasa dirinya paling benar hingga memaksakan kehendak probadi dan golongan yang akhirnya justru merugikan orang banyak. Rasa tolerasi seharusnya mulai dipupuk melalui keluarga yang merupakan tempat belajar dan pembekalan awal, sebelum orang tersebut terjun ke masyarakat.
