Bernas.id – Kota gudeg, sebutan lain untuk kota Yogyakarta. Kota Bersejarah ini tidak pernah sepi di setiap tahunnya. Ribuan wisatawan lokal ataupun asing datang untuk memilih berlibur di kota ini. Tak hanya menyajikan tempat wisata yang indah saja, tapi juga menyuguhkan sisi kuliner tradisionalnya, seperti oleh-oleh khas Jogja dan makanan khas Jogja. Ya, kuliner menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan lokal ataupun asing.
Santapan legend Jogja yang terkenal, yaitu Gudeg. Kuliner gudeg yang berbahan dasar nangka atau sering disebut buah gori (bhs Jawa) menjadi salah satu incaran kuliner wajib wisatawan. Gudeg Yu Djum menjadi pelopor gudeg pertama yang berdiri sejak tahun 1950 di Jalan Wijilan. Gudeg Yu Djum mulanya hanya menjual gudeg di trotoar tepatnya di Jalan Wijilan (Timur Alun-alun Utara Jogja). Namun, saat ini telah menjadi restoran besar dan memiliki banyak cabang di Jogja.
Baca juga: Bika Ambon, Makanan Khas dari Medan atau Ambon?
Soal rasa, Gudeg Yu Djum tetap konsisten dengan resep yang sudah diciptakan oleh Yu Djum sendiri hingga berhasil mengembangkan usahanya kepada anak-anaknya. Saat memesan gudeg untuk dibawa pulang, pelanggan akan diberikan pilihan paket berupa gudeg nasi kotak atau besek atau gudeg kendil.
Gudeg nasi kotak ini tidak jauh berbeda dengan nasi kotak pada umumnya, akan tetapi untuk gudeg kendil ada perbedaan dari segi kemasan. Gudeg kendil menggunakan kemanasan berupa tanah liat bakar yang telah dibuat seperti panci (kwali). Kemasan kendil ini bertujuan agar gudeg bisa bertahan lama hingga 5 hari tanpa perlu dipanaskan.
Gudeg Yu Djum akan dihidangkan dengan ayam kampung yang dimasak dengan santan kental dan sambal krecek yang dimasak merah pedas. Resep gudeg Yu Djum menjadikan kuliner ini benar-benar harus wajib dicoba. Selain memiliki cita rasa manis campur gurih, gudeg Yu Djum juga tidak memakai bahan pengawet. Harga menu gudeg Yu Djum cukup ekonomis dimulai dari harga Rp10.000/porsi sampai Rp280.000/porsi.
Kepada Bernas, Warini, anak kedua Yu Djum menceritakan sewaktu Yu Djum masih gadis sekira belasan tahun ia berjalan kaki dari Karangasem menuju kawasan kraton dengan berjalan kaki. Bisa dibayangkan jarak yang jauh dengan punggungnya menggendong keranjang berisi jualan gudeg. Waktu itu, daerah UGM masih berupa hutan belantara yang rawan orang jahat. Namun, Yu Djum muda tetap memantapkan langkah kakinya membantu kedua orang tuanya.
Dalam diri Yu Djum, diceritakan anaknya Warini, tersembunyi tekad baja untuk membesarkan usaha kuliner orang tuanya yang kelak berguna bagi keluarga dan masyarakat Jogja pada umumnya. Jualannya di kawasan keraton tak melulu habis dan sering ia pulang dengan gudeg yang banyak. Hari demi hari, Yu Djum tetap memupuk semangatnya untuk maju. Disiplin yang tinggi, kesabaran dan keuletan Yu Djum tunjukkan hingga lambat laun jualan gudegnya maju pesat. Rasa gudeg yang ia tawarkan digemari oleh khalayak ramai dan nama Yu Djum semakin terkenal. Itulah buah manis usaha keras yang dibarengi oleh strategi matang dan doa yang tulus.
Yu Djum memiliki 4 orang anak dan mereka hingga sekarang meneruskan usaha gudegnya di berbagai tempat. Dua di antaranya terletak di Jalan Karangasem dan dua lainnya berada di Jalan Wijilan. Tungku pertama Gudeg Yu Djum berada di Gudeg Yu Djum Pusat, Jalan Karangasem. Tidak berhenti sampai di anak Yu Djum, cucu-cucu Yu Djum juga membuka cabang Yu Djum di berbagai daerah yang sudah banyak terpencar di Yogyakarta.
Sehari-hari, Warini menyiapkan Gudeg Yu Djum cabang Wijilan dengan 6 orang karyawannya. Ia juga dibantu dengan 2 orang anaknya untuk berganti shift jaga di sore atau malam hari. Warini bercerita bahwa Yu Djum tak kenal letih, ia masih sering ikut membantu ke pawon (dapur) dan mengunjungi Gudeg Yu Djum anak-anaknya. Terdapat 2 Gudeg Yu Djum cabang Wijilan, salah satunya milik Warini ini dan yang satunya didirikan oleh anak Yu Djum yang ragil (nomor empat).
Gudeg Yu Djum buka pukul 06:00 WIB sampai 22:00 WIB. Omset per hari pendapatan Gudeg Yu Djum sangat menggiurkan, bisa mencapai jutaan ribu rupiah, belum lagi di kala liburan sekolah tiba. Konsistensi resep Yu Djum hingga sekarang dikembangkan sampai ke cucu-cucunya sehingga membuat gudeg ini menjadi gudeg legendaris, gudeg pelopor pertama makanan khas Jogja yang selalu menjadi buruan kuliner wisatawan.
Sama dengan gudeg lainnya, gudeg Yu Djum disajikan dengan krecek pedas, ayam kampung, dan telur bebek bumbu gudeg, termasuk tahu dan tempe bacem.
Gudeg Yu Djum disajikan di alasi lembaran daun pisang. Harumnya sangat khas gudeg dengan gurih yang berasal dari santan ditambah aroma gula merah. Saat Bernas mencicipinya, entah bagaimana manisnya memang pas. Manisnya pun cocok di lidah orang yang bukan orang Jawa dan para turis. Ditambah ayam kampung dan telurnya yang kuat dengan rasa bumbunya yang meresap. Kreceknya bertekstur kering seperti gudegnya, sedikit pedas dan santannya juga tidak kental terasa dimulut. Kalau ingin lebih pedas, coba kunyah cabai rawit rebusnya yang akan menambah cita rasa pedasnya.
Gudeg legendaris yu Djum ini tidak ingin mencoba terobosan baru pada gudegnya karena ingin tetap konsisten dari tahun ke tahun pada resep rahasianya. (nup)
Baca juga: Inilah Bedanya Tepung Tapioka, Tepung Terigu dan Berbagai Tepung Lainnya
