Bernas.id ? Saat ini, masih banyak orang termakan hoaks karena belum bisa membedakan hoaks dan fakta. Jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 dan Pilihan Presiden (pilpres) 2019, diduga kabar hoaks akan semakin banyak ditemukan untuk kepentingan politik.
Penyebaran kabar bohong ini tentunya memiliki tujuan tersendiri. Salah satunya, menciptakan kondisi masyrakat yang terasa tidak aman, terutama penyebaran hoaks terkait penyerangan tokoh-tokoh agama oleh orang gila atau orang yang dituduh PKI.
Diberitakan media, grup penyebar hoaks satu per satu mulai terungkap dan ditangkap apar kepolisian. Dulu grup penyebar hoaks bernama Saracen, lalu yang terbaru grup penyebar hoaks bernama MCA (Muslim Cyber Army).
Namun, Marbut Masjid Agung Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Uyu Ruhiyana bukan karena sebagai anggota MCA menyebar hoaks, tapi ia mengaku, apa yang dilakukannya itu untuk bisa mewujudkan keinginan anaknya, yaitu membeli mesin pemotong rumput.
Diakui Uyu, penghasilannya sebagai penjaga masjid hanya Rp 125 ribu per bulan sehingga tak mungkin menuruti permintaan anaknya.
Rabu (28/2/2018), menyebar informasi seorang marbot masjid dianiaya lima orang tak dikenal. Kabar itu menyebar viral via media sosial. Bahkan, konten viral itu dikait-kaitkan dengan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Namun, di hadapan ?Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Ketua MUI Jabar dan pimpinan Dewan Masjid Indonesia, Uyu mengakui perbuatannya itu.
“Anak saya bercita-cita punya mesin potong (rumput-red). Tapi tidak punya uang untuk beli sampai akhirnya saya berpikiran kotor,” jelas Uyu di Mapolda Jabar, Kamis (1/3/2018).
Harapan Uyu dengan merekayasa kejadian itu adalah mendapat belas kasihan, lalu orang akan memberinya uang. Hasilnya akan ia belikan mesin potong rumput.
