Bernas.id – Narkoba menjadi musuh senyap sebuah negara karena efeknya yang akan meracuni generasi muda, yang digadang-gadang menjadi penerus bangsa. Namun, penyelundupan narkoba yang berhasil diungkap ketika akan masuk ke Indonesia diperkirakan jumlahnya jauh lebih kecil dibanding yang berhasil masuk.
Pernyataan narkoba yang masuk ke Indonesia jauh lebih besar, diucapkan oleh seorang mantan pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN). “Yang lolos lebih banyak,” ucap mantan Direktur Penindakan BNN, Benny Jozua Mamoto, kepada wartawan, Senin (26/02).
Diberitakan media, tiga minggu terakhir ini, lebih dari dua ton narkoba berhasil diungkap oleh pihak keamanan, ditambah penyelundupan sekira satu ton narkoba jenis sabu dari Tiongkok di perairan Batam, Kepulauan Riau.
Dikatakan Benny, dari survei BNN, keberhasilan aparat membongkar penyelundupan narkoba baru sekitar 10 persen. Terbongkarnya penyelundupan ini membuktikan Indonesia masih menjadi wilayah sasaran penyelundupan jaringan narkoba internasional. Artinya, permintaan konsumsi narkoba masih tinggi di Indonesia.
Karena pasar narkoba tidak berhasil ditekan, lanjut Benny, membuat angka permintaan terhadap narkoba menjadi tetap tinggi. Untuk itu, para sindikat narkoba internasional terus berupaya dengan 1001 cara, 1001 jalur, 1001 modus agar bisa memasukkan narkoba ke pasar Indonesia.
Kepala BNN Budi Waseso menyebut kalau ada kapal pengangkut sabu yang tertangkap, kapal pengangkut sabu yang lain bergerak.
Saat jumpa pers bersama Kapolri Jendral Tito Karnavian di pelabuhan Sekupang, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (23/02) lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani, tidak menafikan bahwa Indonesia akan terus mendapatkan 'banjir narkoba setiap hari dan terus meningkat.
