DARI sebuah artikel di sebuah media online pada 13 Maret 2019 berkali-kali disebutkan bahwa TPA Piyungan telah overload atau kelebihan kapasitas. Dan untuk mengurangi bebannya masyarakat diminta memilah sampah sehingga yang dikirim ke sana hanya berupa residu akhirnya.
Sebenarnya apa yang menjadi kendala pemilahan sampah ini? Jawabannya karena memang tidak mau. Mereka sering membela diri dengan mengatakan bahwa mengelola sampah itu tidak semudah membalikkan telapak angan. Menurut saya pernyataan itu hampir benar karena sebenarnya mengelola sampah itu semudah membalikkan telapak tangan asalkan kita mau. Kata kuncinya adalah ?mau?.
Kemauan ini sering berkorelasi dengan kondisi sampah. Karena sampah berbau busuk, menjijikan dan mungkin jumlahnya yang relatif banyak sehingga mereka sangat setuju jika sampah harus dibuang atau dijauhkan dari mereka secepatnya dengan cara membungkusnya dalam kantong plastik kresek, mengikatnya dan melemparkannya ke tempat sampah (sebagian ke sungai. Ups!), tanpa memilahnya terlebih dahulu.
Andai saja mereka tahu bahwa sampah itu bernilai ekonomi maka sampah dapur dan sisa makanan dihargai hingga belasan ribu rupiah untuk pakan ternak, jenis sampah dapat didaur ulang (recycleable) bernilai hingga Rp 10 ribu per kilogram. Dan jika diolah sedikit lagi dapat dijual sampai ke manca ]negara seperti yang diberitakan oleh KompasTV pada 7 April 2019, bahkan dengan ketekunan memilah sampah dapat membawa seseorang berangkat umroh atau menukarnya dengan emas seperti yang sekarang sedang terjadi di salah satu bank pasar di Kelurahan Kelapa Gading, Jakarta. Sebagian besar sampah rumah tangga yang berbau dan menjijikan itu dapat diolah atau dimanfaatkan sehingga memiliki nilai ekonomi seperti di atas.
Proses pemanfaatan dan pengolahan sampah rumah tangga hingga bernilai ekonomi berpangkal pada upaya segregasi atau pemilahan sampah. Silakan bermimpi di siang bolong untuk mendapatkan manfaat itu semua termasuk mengurangi beban TPA Piyungan kalau segregasi sampah tidak pernah berhasil.
Kalau sekarang kita sudah tahu bahwa segregasi adalah kunci keberhasilan mengubah sampah rumah tangga menjadi bernilai ekonomi dan mengurangi beban TPA, tapi masih saja belum terlaksana maka pihak pemerintah dari tingkat yang paling rendah harus disadarkan dan dibina lebih intensif agar menyentuh kesadaran penghasil sampah di rumah-rumah tangga.
Kita harus sadar, membuang sampah tanpa memilahnya dulu adalah pemborosan ekonomi dan sumber daya alam yang luar biasa. Sampah yang tidak dipilah tidak dapat dimanfaatkan dan kalau pun bisa maka volumenya sangat kecil, yang pada akhirnya akan terbuang dan tetap saja membebani TPA. Membuang sampah ke TPA tidak gratis, tapi kita melibatkan pengumpul sampah rumah tangga yang dibayar setiap bulan atau setiap kali mengumpulkan sampah kita.
Kalau saja sampah dipilah dan dapat didaur ulang tidak tercampur dengan sampah lainnya, mungkin harga jual sampah dapat didaur ulang itu dapat dipakai untuk membayar si pengumpul sampah rumah tangga itu. Kalau kemudian sampah dapur dan sisa makanan dapat dipilah, maka sampah dapat didaur ulang dan sampah dapur dan sisa makanan dapat dijual dan uangnya untuk membayar si pengumpul sampah rumah tangga yang semakin jarang memungut sampah rumah tangga kita karena volumenya telah jauh berkurang. Bahkan, bisa-bisa kita mendapatkan surplus dari penjualan sampah-sampah itu.
Kadang kita sukar menjual sampah yang dapat didaur ulang dan sampah dapur dan sisa makanan karena kita tidak tahu siapa yang mau membelinya, solusinya sangat mudah. Letakkan saja sampah yang dapat didaur ulang itu di luar rumah, pasti akan dipungut oleh tukang rongsok. Wadahi sampah dapur dan sisa makanan di dalam ember, maka nanti juga embernya akan kosong karena dikumpulkan oleh pencari pakan ternak yang bisasanya ?bergerilya? pada malam hari.
Paling tidak, kalau pemilahan sampah sudah dapat kita laksanakan di tingkat penghasil maka volume residu sampahs angat berkurang sehingga mengurangi beban TPA dan beban kita semua membayar pengumpul sampah. Kini, tinggal apakah kita mau memulainya atau tidak? Semoga mau karena TPA kita sudah overload?.Mari. (Radjali Amin PhD, Dosen Program Pascasarjana UTY)
