NEW YORK, BERNAS.ID ? Teknologi seluler generasi kelima atau 5G banyak disebut sebagai lompatan besar dalam kecepatan perangkat nirkabel. Pasalnya, teknologi 5G memberikan kecepatan data hingga 100 kali lipat dari jaringan 4G saat ini. Namun, teknologi tersebut juga dituding membahayakan kesehatan. Bagimana faktanya?
Sebagaimana dilansir dari Live Science, Senin (23/9), Profesor teknik elektronika Universitas Columbia, Amerika Serikat, Harish Krishnaswamy mengatakan bahwa dengan teknologi 5G pengguna akan melihat kecepatan unduhan mereka dalam satuan gigabita per detik (Gb/S). Ini jauh lebih besar dari puluhan megabita per detik (Mb/s) yang disediakan 4G. ?Anda berpotensi mengunduh film ke ponsel atau tablet Anda dalam hitungan detik. Jenis kecepatan data itu juga memungkinkan aplikasi realitas virtual atau mobil mengemudi otonom,” kata Krishnaswamy sebagaimana dikutip laman berita ilmu pengetahuan dan teknologi dari Amerika Serikat itu.
Selain memiliki kecepatan tinggi, menurut teknologi 5G juga memiliki latensi yang sangat rendah, yaitu hanya sekitar 1 milidetik. Yang dimaksud dengan latensi adalah jeda waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan data dari pengirim ke penerima. ?Ini sangat signifikan, karena 5G nantinya akan memungkinkan aplikasi baru yang saat ini belum memungkinkan,” jelasnya.
Kendati demikian, 5G dituding berpotensi membahayakan kesehatan. Pasalnya, radiasi gelombang milimeter teknologi tersebut dianggap lebih tinggi. Namun, profesor bioteknologi dari Pennysilvania State University, Kenneth Foster, mengimbau agar konsumen tidak khawatir. “Sering ada kebingungan antara radiasi pengion dan non-pengion karena istilah radiasi digunakan untuk keduanya,” katanya sebagaimana dikutip Live Science. “Hanya radiasi pengion yang berbahaya karena dapat merusak ikatan kimia.”
Contoh radiasi pengion, menurut Foster, adalah sinar ultraviolet yang mampu ?mengetuk? elektron dari atomnya, merusak sel-sel kulit dan DNA. Sementara itu, gelombang milimeter seperti yang dipancarkan teknologi 5G, memiliki panjang gelombang yang lebih panjang, sehingga tidak mampu merusak sel secara langsung. “Satu-satunya bahaya radiasi non-ionisasi adalah pemanasan yang terlalu banyak,” kata Foster, yang telah mempelajari efek kesehatan dari gelombang radio selama hampir 50 tahun. “Pada tingkat paparan tinggi, energi frekuensi radio (RF) memang bisa berbahaya, menghasilkan luka bakar atau kerusakan termal lainnya, tetapi paparan ini biasanya hanya terjadi pada frekuensi radio berdaya tinggi,? lanjutnya.
Walau begitu, Foster menyarankan lebih banyak penelitian tentang pengaruh teknologi 5G bagi kesehatan. ?Semua orang yang saya kenal, termasuk saya, merekomendasikan lebih banyak penelitian tentang 5G karena tidak ada banyak studi toksikologi dengan teknologi ini,” kata Foster. (aji)
