WASHINGTON, BERNAS.ID – Penyakit paru-paru diduga akibat penggunaan vape atau rokok elektrik baru-baru ini mewabah di Amerika Serikat. Sebagaimana dilansir Live Science pada Jumat (17/9), Center for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat sebanyak 805 kasus yang tersebar di 46 negara bagian Amerika Serikat. Jumlah itu naik sebanyak 530 kasus di 38 negara bagian yang dilaporkan pekan lalu. Sementara itu, jumlah kematian akibat penyakit tersebut sebanyak 12 orang atau naik 5 orang dibanding pekan lalu.
Menurut CDC, sebagian besar pasien merupakan remaja hingga awal dewasa. CDC melaporkan bahwa sekitar dua pertiga pasien berusia 18 hingga 34 tahun, dan 16% berusia di bawah 18 tahun. Semua pasien dengan penyakit paru-paru juga dilaporkan menggunakan vape. Di antara mereka, ada juga yang menggunakan vape untuk mengisap ganja.
Dalam kasus ini, pasien umumnya mengeluhkan gejala seperti sesak napas, batuk dan nyeri dada. Beberapa di antaranya juga mengalami mual, muntah, demam, dan penurunan berat badan. Hingga kini, penyebab pasti penyakit itu masih diselidiki. Namun, CDC menduga bahwa penyakit tersebut terkait dengan bahan kimia yang terkandung pada vape. “Paparan bahan kimia, kemungkinan di balik penyakit ini,? ungkap laporan CDC sebagaimana dikutip Live Science.
Sementara itu, The Washington Post menduga bahwa wabah penyakit paru-paru yang melanda Amerika Serikat terkait dengan peredaran vape ilegal di pasar gelap. Menurut investigasi The Washington Post, vape yang dijual di pasar gelap menambahkan bahan kimia berbahaya pada perasanya. Bahan kimia tersebut membuat perasa pada vape menjadi lebih kuat.
Menyusul kasus ini, CDC merekomendasikan agar warga Amerika Serikat berhenti menggunakan vape. CDC juga melarang pengguna vape memodifikasi produk atau menambahkan zat lain yang belum terbukti keamanannya ke dalam produk rokok elektrik yang mereka gunakan. (aji)
