NADIEM Makarim yang usianya masih jauh di bawah saya kini jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Latar belakangnya yang berprofesi sebagai pengusaha jadi harapan perubahan besar, yang dampaknya untuk jangka panjang karena mengelola masa depan Indonesia. Begitu dilantik Presiden Jokowi beberapa waktu lalu di Istana, kontan banyak yang menyorotinya. Bagai selebritis meledak seketika populer. Sama persis dengan Susi Pujiastuti 5 tahun silam paska dilantik menjadi Menteri.
Kita pasti masih ingat bagaimana Menteri Susi diremehkan banyak orang, bahkan seolah dijatuhkan mentalnya. Utamanya datang dari akademisi pemilik gelar berjejer menghiasi namanya agar makin mengagumkan. Tak pernah ragu Susi tetap melangkah dengan pasti, publik meresponnya di ujung pengabdiannya dinilai paling sukses , hasil penilaian dari lembaga survei yang obyektif. Kenangan indah karya gebrakannya terpatri dalam memori masyarakat, legendaris dikenang bukan hanya sebatas usianya saja.
Kelas petani seperti saya tentu beda lagi cara memandang dua hal di atas. Yang pasti memilih dua sosok di atas jadi menteri adalah sebuah perubahan dari kelaziman selama ini. Beda nyata dari sebelum-sebelumnya. Pasti harapan Presiden Jokowi ada perubahan bermakna. Pasti ada sebab yang melatar belakanginya sehingga harus berubah dan mempercayakan kepada yang dianggap mampu membawa perubahan itu sendiri. Tak ubahnya kehidupan Nadiem yang membukakan mata masyarakat harus mengakui kiprah hebatnya dan nyata pula itu.
Seingat saya, dulu saat sekolah selalu mengedapankan kasih sayang berlandaskan budi pekerti. Tapi kok sekarang tawuran antar kelompok siswa bagai hal biasa dan terlihat kesannya jauh dari rasa belas asih antar sesama. Bengis jauh dari karakter manusiawi. Bahkan diperalat jadi peserta demontrasipun manut saja asal ada yang mengkoordinir dan kompensasinya. Ironisnya lagi kadang ada yang ke-GR-an menatap sinis kepada pihak lain yang sesungguhnya adalah sesamanya juga, itu terjadi kalau bukan sealiran keyakinan sekalipun seagama, apalagi dengan yang beda agama. Menyakitkan karena itu terjadi di lembaga pendidikan.
Tugas berat Menteri Nadiem lagi, menurut data fakta bahwa jumlah pengangguran yang berlatar belakang lulusan SMK dan Perguruan Tinggi, justru dari tahun ke tahun makin mendominasi. “Makin banyak walaupun terasa aneh tapi nyata data”. Angka jumlah proporsi prosentase wirausahawan pencipta lapangan pekerjaan di Indonesia masih kalah dibanding Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand bahkan dengan Vietnam sekalipun. Ini tentu erat kaitannya antara jumlah pengangguran dan jumlah wirausahawan pencipta lapangan pekerjaan. Tentu sangat erat juga dengan pola didik ke anak-anak kita selama ini.
Besar harapan, semoga nyata ada perubahan besar yang nyata bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Lebih dahsyat dampaknya dibanding Gojeknya. Kami sangat percaya Menteri Nadiem bisa membuktikan, ini kesempatan emas mengukir prestasi emas legendaris. Abaikan pihak yang masih suka pesimistis apalagi apatis kepada negeri sendiri. Pesan Presiden Jokowi, harus bisa sampai pada target yang sesungguhnya, ibarat kirim sms bukan sekedar sent tapi harus delivery daya manfaat nyatanya.
(Wayan Supadno, Praktisi Pertanian)
