BERNAS.ID – Banyak startup gagal melanjutkan bisnis karena beragam alasan. Dilansir dari TechCrunch, sepanjang 2019 ada startup global berskala besar maupun kecil yang memutuskan untuk berhenti beroperasi.
Daftar tersebut memuat 14 startup independen, yang pendiriannya bukan atas inisiatif dari perusahaan yang lebih besar. Meskipun, salah satu startup dalam daftar tersebut diakuisisi perusahaan besar sebelum gulung tikar.
Berikut tujuh di antaranya.
1. Anki (2010 – 2019)
Startup di bisnis robot dan artificial intelligence (AI) ini berhasil menghimpun dana sebesar US$ 182 juta atau sekitar Rp 2,5 triliun. Tiga tahun lalu, perusahaan berinvestasi besar untuk membuat robot kecil bernama Cozmo. Untuk menghasilkan emosi berbeda pada mata Cozmo, perusahaan merekrut mantan animator Pixar dan Dreamworks.
Pada akhir 2018, perusahaan meluncurkan robot Vector yang serupa dengan Cozmo namun diperuntukkan bagi kalangan dewasa. Pada April 2019, Anki memutuskan untuk berhenti beroperasi, meskipun telah menjual 1,5 juta robot dan ratusan ribu model robot Cozmo.
2. Chariot (2014 – 2019)
Startup di bidang angkutan massal berupa van ini berhasil menghimpun dana sebesar US$ 3 juta atau sekitar Rp 41,7 miliar. Ford mengakuisisi startup tersebut dua tahun lalu, namun kemudian menutupnya pada awal 2019. Perusahaan tidak memberikan penjelasan rinci mengenai alasan penutupan itu. Namun, perusahaan mengatakan bahwa keinginan serta kebutuhan pelanggan dan kota berubah dengan cepat.
3. Daqri (2010 – 2019)
Startup di bidang augmented reality (AR) headset ini berhasil menghimpun dana sebesar US$ 132 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun. Daqri menutup operasinya sekitar September lalu dan menyelesaikan penjualan aset.
Daqri adalah satu dari sekian banyak perusahaan di sektor ini yang gagal menggaet perusahaan sebagai pelanggan, serta bersaing dengan Magic Leap, Microsoft, dan lainnya.
4. HomeShare
Di tengah kenaikan harga properti, HomeShare menyediakan layanan untuk mempertemukan teman berbagi apartemen, dan memfasilitasi pembuatan ?micro-rooms?. Startup properti ini telah menghimpun dana sebesar US$ 4,7 juta atau sekitar Rp 65,4 miliar.
Perusahaan mengatakan bahwa hingga Maret lalu, mereka memiliki sekitar 1.000 penduduk aktif. Sebagai bagian dari penutupan, HomeShare mengatakan penduduk tidak akan mendapatkan kembali deposit untuk partisi mereka, tapi mereka dapat menyimpan atau menjualnya.
5. MoviePass (2011 – 2019)
Startup layanan tiket ini berhasil menghimpun dana sebesar US$ 68,7 juta atau sekitar Rp 957 miliar. MoviePass juga sempat diakuisisi oleh perusahaan analisis data Helios dan Matheson pada 2017. Perusahaan tampak seperti menghadapi bencana baru setiap minggu lantaran mengalami 'pendarahan' keuangan, membatasi layanannya, mengalami pemadaman, hingga meminjam lebih banyak uang.
6. Sinemia (2015 – 2019)
Startup layanan tiket ini berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 1,9 juta atau sekitar Rp 26,4 miliar. Sinemia menghadapi keluhan pelanggan, bahkan tuntutan hukum terkait beberapa isu dalam aplikasinya, biaya tersembunyi, dan kebijakan penutupan akun. April lalu, perusahaan mengumumkan bahwa mereka mengakhiri operasinya di Amerika Serikat.
Perusahaan tidak mengatakan tutup sepenuhnya. Banyak staffnya berbasis di Turki. Tapi, situs perusahaan telah offline sejak pengumuman itu.
7. Vreal (2015 – 2019)
Vreal merupakan platform game streaming yang memungkinkan pengguna VR menjelajahi dunia di mana live streamers bermain. Pengguna bisa berjalan di sekitar streamers sebagai avatar, atau sebagai pengamat pasif sambil mendengarkan live streamers bermain.
Startup ini berhasil menghimpun dana sebesar US$ 15 juta atau sekitar Rp 208,7 miliar. Namun, perusahaan berakhir tutup. Dalam keterangan resminya, perusahaan menyatakan penyebab penutupan adalah pasar VR yang belum berkembang secepat yang diharapkan.
Bagi Anda yang berencana menekuni bisnis yang menguntungkan seperti bisnis properti misalnya, kini ada inovasi terbaru yang memungkinkan Anda menjadi agen properti sukses dengan cara yang mudah dan efisien. Bernas Group melalui Viral Property menyelenggarakan program Gotong Royong Digital yang memungkinkan Anda untuk mendapatkan komisi dari properti di seluruh Indonesia tanpa harus repot terjun langsung ke lapangan. Daftarkan diri Anda segera melalui link berikut ini: https://bernas.info/ViralProperty. (tds)
