Bernas.id – Perkembangan dunia digital marketing telah mengubah orientasi cara belanja. Perdagangan konvensional mulai ditinggalkan dan beralih ke online marketplace atau online shop. Cara berbelanja baru yang lebih mudah, simpel, dan tidak menyita banyak waktu. Cukup dengan gawai dan terhubung internet maka puluhan bahkan ratusan toko sudah bisa dikunjungi.
Selain pertimbangan efisien dan waktu belanja yang fleksibel, ternyata harga di online marketplace relatif lebih bersaing daripada berbelanja secara langsung. Pembeli pun bisa leluasa membandingkan harga suatu barang tanpa merasa sungkan dengan pramuniaga yang melayani, cukup dengan KLIK sana KLIK sini semua harga sudah siap dibandingkan.
Harga yang relatif lebih murah ini bukan tanpa alasan, beberapa penyebabnya adalah :
- olshoper (penjual online) tidak membutuhkan toko untuk display barang sehinga tidak ada biaya sewa atau perawatan tempat.
- karena tidak perlu men-display barang maka kebutuhan akan properti lebih sedikit.
- beberapa olshoper tidak membutuhkan modal besar untuk menyetok barang dengan adanya sistem reseller dan dropship
- jumlah karyawan relatif lebih sedikit karena terbantu dengan adanya sistem reseller
- olshoper lebih suka mengambil sedikit keuntungan untuk setiap item barang. Besarnya keuntungan ditentukan dengan memperbanyak jumlah item yang terjual.
Namun ada satu hal yang membuat sedikit was-was saat berbelanja secara online. Ongkir alias ongkos kirim yang kadang lebih mahal dari harga barang yang dibeli. Domisili menentukan seberapa dalam kocek harus dirogoh. Semakin pelosok wilayah pembeli maka semakin tinggi pula ongkos kirim yang harus dikeluarkan.
Bagi olshoper sendiri, ongkir ini juga menjadi momok tersendiri.
“Maaf Kak, enggak jadi order ya. Mahal di ongkir.” Satu chat yang cukup membuat tarik napas panjang. Bagimana tidak, keuntungan yang besarnya tidak seberapa terpaksa harus ditunda dulu karena pembeli merasa keberatan di ongkir.
Salah satu strategi yang umumnya diambil olshoper untuk menyiasati mahalnya ongkir adalah dengan memberikan promo subsidi ongkir. Calon pembeli mendapat bantuan ongkos kirim sehingga tidak perlu membayar ongkir secara penuh. Besaran subsidi ongkir sendiri tidaklah sama pada setiap online shop. Ada yang memberikan 50% bebas ongkir, ada yang dibantu sebesar lima ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah, bahkan kadang ada yang menjadi free ongkir karena besarnya subsidi ongkir yang telah ditentukan ternyata lebih besar dari ongkos kirim yang harus ditanggung pembeli.
Nah, hal inilah yang diterapkan di #ViralDesa terutama pada penjualan baju batik. Dengan menerapkan sistem gotong royong sesama team #ViralDesa maka harga jual sebuah baju batik adalah sama di seluruh pelosok Indonesia. Harga di Jawa sama dengan harga jual di Papua, Sulawesi, maupun kota-kota lain di seluruh Indonesia mulai dari Sabang sampai ke Merauke. Satu harga untuk seluruh wilayah. Luar biasa.
Baca juga: Socmed vs Marketplace, Mana yang Paling Efektif untuk Jualan Online?
