BERNAS.ID – Bisnis kuliner masih menjadi salah satu yang paling diminati. Pasar yang luas dan peluang untuk berkembang dengan cepat menjadi daya tarik bisnis yang satu ini. Jika Anda termasuk orang yang tertarik menekuni bisnis kuliner ini, jangan hanya memikirkan keuntungannya saja, tapi pastikan juga memahami dengan baik bahwa bisnis ini juga sangat rentan gulung tikar.
Bisnis yang menjanjikan tidak selalu mudah untuk dijalankan, begitu juga dengan bisnis kuliner. Anda tentu pernah melihat bagaimana sebuah tempat atau rumah makan begitu mudah berganti dengan rumah makan lainnya, meskipun selama dibuka rumah makan tersebut tampak ramai dan baik-baik saja.
Bahkan bukan hanya artis yang gagal dalam bisnis kuliner, seorang chef kondang seperti Juna juga menutup restorannya karena satu dan lain hal.
Jadi, biar Anda tidak mengalami kegagalan dalam bisnis ini, bagaimana jika kita bahas dengan tuntas tentang faktor-faktor apa yang menyebabkan bisnis kuliner gagal total. Mari simak ulasan lengkapnya.
1. Menjadikan Bisnis Kuliner sebagai Sambilan
Secretary General dari Ikatan Praktisi Kuliner Indonesia, Chef Sabir Mappakarya mengatakan bahwa bisnis kiuliner bukan bisnis minim modal. Risikonya juga tergolong besar.
Bayangkan saja, Anda mesti sewa tempat untuk lokasi usaha, menggaji pegawai, belum lagi urusan beli bahan baku. Jika restorannya sepi, otomatis bahan baku yang Anda beli tidak bisa digunakan bukan? Ada kemungkinan bakal basi juga.
Chef Sabir juga mengingatkan kita bahwa jangan pernah menjadikan bisnis ini sebagai sambilan, intinya Anda harus fokus. Jalau masih ada keraguan, mending jangan mulai dulu karena perencanaan bisnis kuliner juga tidak main-main.
Jika Anda tertarik dengan keuntungan instan, Chef Sabir juga menyarankan Anda untuk membuka waralaba makanan saja. Konsep bisnis waralaba makanan lebih minim risiko ketimbang buka restoran baru.
2. Mulai Tanpa Persiapan yang Matang
Melihat orang lain sukses menjalankan bisnis dengan begitu mudah, ini tentu kondisi yang kerap membuat orang salah perkiraan. Bisnis tidak selalu semudah yang Anda lihat dan pikirkan, terutama bisnis kuliner yang membutuhkan banyak tenaga dan juga waktu.
Bisnis kuliner akan membutuhkan proses pembelian (belanja) bahan baku, proses persiapan (memasak), hingga akhirnya penjualan. Semua ini proses yang panjang dan harus direncanakan dengan matang, apalagi jika Anda berniat untuk membuka bisnis dalam skala yang cukup besar. Jika tidak direncanakan dengan matang dan detail sejak awal, maka bisnis kuliner tidak akan berumur panjang.
3. Promosi Tidak Maksimal
Sudah berada di lokasi yang strategis dan tepat, menyediakan berbagai menu yang lezat dengan harga yang layak, namun bisnis masih sepi pembeli. Kondisi seperti ini sangat mungkin terjadi, terutama untuk bisnis kuliner yang baru dibuka. Anda tidak bisa hanya menjalankan bisnis saja, tanpa melakukan kegiatan promosi yang tepat.
Jika promosi tidak dilakukan dengan maksimal, maka orang tidak akan mengenal bisnis yang dijalankan. Lambat waktu bisa saja bisnis kuliner akan sepi pengunjung dan tidak bisa mendapatkan angka penjualan.
4. Menyediakan Menu dengan Tampilan yang Biasa-Biasa Saja
Kalau Anda hanya berniat mendirikan warung makan seperti warteg, hal ini sah-sah saja dilakukan. Tapi jika Anda ingin membangun restoran, maka salah besar jika Anda melakukan hal ini.
Menurut Chef Axhiang, tampilan makanan jelas bisa menggugah selera makan seseorang. Dan hal itu harus diutamakan. Kalau tampilannya biasa-biasa saja, walau rasanya enak, pasti orang bakalan ragu buat mencoba.
Axhiang juga mengatakan walaupun penampilannya diubah, keaslian rasanya tetap harus sama. Misalnya, masak rendang ya harus rasa rendang, jangan malah jadi rasa daging gepuk yang manis.
Inovasi dalam penyajian itu emang harus dilakukan. Sebagai pemilik bisnis kuliner, Anda tentu bisa dong menciptakan desain-desain makanan yang sesuai dengan ciri khas restoran Anda.
5. Pangsa Pasar dan Harga Tidak Tepat
Apa yang Anda jual dan siapa yang akan menjadi pembelinya? Kedua hal ini tentu sangat penting untuk dipertimbangkan sejak awal. Kuliner tertentu mungkin sangat diminati saat ini, namun belum tentu disukai satu atau dua bulan lagi. Tren pangsa pasar selalu berubah-ubah seiring dengan berlalunya waktu, dan Anda harus siap dengan hal tersebut.
Selain itu, penerapan harga jual juga tidak bisa sembarangan. Sebab, Anda perlu menyesuaikan dengan pangsa pasar. Jangan sampai Anda membidik para ramaja dan anak sekolah sebagai pelanggan, namun menjual makanan dengan harga selangit yang akan menghabiskan uang jajan mereka selama sepekan.
Bagi Anda yang berencana menekuni bisnis yang menguntungkan seperti bisnis properti misalnya, kini ada inovasi terbaru yang memungkinkan Anda menjadi agen properti sukses dengan cara yang mudah dan efisien. Bernas Group melalui Viral Property menyelenggarakan program Gotong Royong Digital yang memungkinkan Anda untuk mendapatkan komisi dari properti di seluruh Indonesia tanpa harus repot terjun langsung ke lapangan. Daftarkan diri Anda segera melalui link berikut ini: https://bernas.info/ViralProperty. (tds)
