Kolom SINTESA | Oleh: Prof. Sudjarwadi
Bernas.id – Di satu pagi yang cerah, ada seorang cucu yang masih sekolah SMU datang ke rumah kakeknya. Sang Kekek pun terkejut, tiba-tiba ada orang menyapa, ternyata cucunya. Karena rumah cucunya tersebut memang dekat dan masih satu RT. Lalu, sang kakek membenarkan posisi duduknya dan bersiap untuk diskusi bersama cucunya.
?Kakek nih pagi-pagi sudah melamun. Mikir apa kek?? sapa si cucu.
?Kakek sedang melamun, karena tadi malam baca buku dan beberapa artikel di Google.?
?Buku tentang apa, Kek??
?Itu, buku yang sampul depannya ada gambar kancil dan semut.?
?Buku berjudul 'Pemimpin-pemimpin yang Tersesat' yang ditulis Kakek ketika saya masih SD itu, ya,? tanya si cucu lagi.
?Iya, buku itu.”
?Apa yang dilamunkan, Kek??
?Sana, ke nenek dulu, minta sarapan, tadi membuat nasi goreng. Kalau sudah makan dan minum hangat bisa kembali ke sini untuk mendengarkan cerita lamunan kakek,? jawab sang kakek sambil tersenyum.
Lalu, sesuai arahan kakeknya, si cucu tersebut bergegas ke dapur untuk menemui neneknya.
Selang sekitar 20 menit, si cucu kembali menemui kakeknya lalu ikut duduk di kursi sederhana di serambi rumah, mereka menghadap halaman yang tidak begitu luas, namun ada tanaman menyejukkan dipandang mata.
?Loh, sarapannya kok cepat?? tanya sang kakek.
?Iyaa dong kek, saya ingin cepat-cepat dengar cerita dari Kakek.?
?Oke, sini duduk manis, biar enak dengerin cerita Kakek,? ucap kakek tersebut sambil mencari posisi duduk paling nyaman. “Kakek ingat kalimat-kalimat menarik dalam buku dan terlintas kondisi saat ini yang masih belum lepas dari pengaruh pandemi Covid-19. Orang-orang semakin sadar tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kakek ingat cerita tentang seorang resi yang berkelana di Negeri Inspio yang tertulis di sekitar halaman 126 dan 127 dalam buku.”
?Resi itu jabatan apa dan orang mana, Kek??
?Resi itu bukan jabatan, tetapi sebutan bagi orang zaman dulu yang suka bertapa dan belajar, sabar dan berpengetahuan luas serta hatinya bersih dan nuraninya jernih. Resi dalam cerita tersebut orang dari bumi, dari planet bumi, datang ke Negeri Inspio di planet Bumba dan bertemu dengan tiga bocah pintar yang masih sekolah SD.?
?Wow, hebat ya Kek. Aku ingin dengar cerita lengkapnya, pasti menarik,? sahut si cucu.
?Ya. Itu penggalan cerita saja, cerita lengkap di buku tersebut macam-macam.?
?Apakah itu berhubungan dengan bacaan Kakek di Google tadi malam??
?Nanti sambil cerita mungkin timbul pikiran-pikiran, coba kita lihat nanti ya, kakek akan mulai bercerita dulu.?
?Baik, Kek,? sahut si cucu lagi.
Berikut cerita kakek tersebut kepada cucunya.
Tertulis cerita menarik tentang resi mengajak tiga bocah menelusuri sebuah pasar di Negeri Inspio. Resi tersebut bernama Kulandara. Resi dan tiga bocah sepakat mencari warung makan. Tiga bocah mengajak resi makan di warung yang berada di sebuah pasar. Pasarnya bernama Muramares.
Kondisi pasar Muramares sangat bersih dan rapi. Pasar tersebut merupakan pasar tradisional tipe Negeri Inspio. Banyak barang dijual di pasar itu, dari kebutuhan makanan pokok, sandang, perabot rumah, buku, sampai berbagai macam jasa untuk kehidupan sehari-hari. Mereka menuju warung di deretan samping dan untuk menuju ke sana harus melewati deretan bermacam gerai yang ada di pasar.
?Kita lewat saja dulu Bapak Resi, sambil memandang sekilas. Nanti kalau mau tahu lebih banyak tentang kondisi pasar setelah makan saja,? kata anak nomor dua.
?Iya, bapak kan lapar, jadi sebaiknya makan dulu,? kata bocah paling besar.
?Baik, baik,? kata Kulandara.
Sampailah mereka di warung di kompleks pasar tersebut. Penjaga warung ramah, kondisi warungnya juga bersih dan suasananya segar sehingga menambah selera makan. Pengunjung warung sudah tidak terlalu ramai karena waktu makan siang sudah lewat. Hanya ada beberapa orang yang makan di situ dan sebagian cuma minum sambil menikmati kue-kue.
Kulandara memilih makanan berbahan baku ikan laut yang ditangkap dari laut negeri Inspio yang dikelola dengan bagus. Untuk minumnya dia memilih sari buah campuran (mix) dari buah-buahan hasil tanam petani lokal. Ketiga bocah sudah makan, hanya ikut minum jus buah-buahan sesuai selera masing-masing.
Seusai makan, Kulandara mengajak tiga bocah menelusuri pasar. Tiga bocah pun dengan suka hati menemani karena pasarnya nyaman untuk berbelanja dan menganut konsep green economy.
?Green economy itu apa kek?? sela si cucu.
?Green economy itu adalah ekonomi hijau,? jelas sang kakek kemudian.
?Oo, ya kek aku ingat, di sekolah juga diceritakan hal tersebut oleh ibu guru,? jawab si cucu.
Di pasar tersebut tidak ada barang atau alat bungkus yang berasal dari bahan-bahan kimia yang merugikan lingkungan. Resi Kulandara tertarik pada toko perabot pertanian yang diciptakan oleh para pemuda setempat sebagai aktualisasi keahlian yang kental muatan IPTEK sangat cocok kondisi alam tempat tersebut. Perabot sangat praktis dan suaranya tidak berisik serta menggunakan bahan-bahan yang bukan hasil tambang besi seperti di planet bumi.
Tak terasa, banyak gerai yang dikunjungi Kulandara berserta tiga bocah yang diajaknya.
?Wow, wow. Pasarnya hebat ya, Kek,? komentar si cucu.
Sebelum sang kakek menjawab, ternyata ada cucu yang lain datang menghampiri.
?Kakak dicari mama, disuruh pulang sekarang, ada perlu.?
?O ya Dik, kamu pulang dulu bilang mama, kakak segera datang,” jawab seorang cucu yang sedari tadi mendengarkan cerita.
?Wah Kek, aku dipanggil mama. Lain kali aku masih ingin dengar cerita Kakek tentang pasar. Juga ingin dengar cerita bacaan Kakek di Google. Kelanjutan cerita tentang pasar yang berprinsip ekonomi hijau pasti indah. Kalau aku sudah siap, kelak akan membangun pasar seperti itu, Kek. Kakek setuju?”
?Tentu, tentu kakek akan mendukung kamu kelak membuat pasar seperti itu. Rajin belajar ya, biar ahli membangun pasar indah dan ramah lingkungan,? jawab sang kakek.
?Sudah dulu ya kek, lain kali aku datang lagi,? ungkap si cucu berpamitan.
?Ya, ya, cerita dari Google-nya nanti kalau kamu berkunjung lagi, salam untuk mamahmu ya,? pesan kakek tersebut.
Si cucu kemudian berjalan kembali ke rumahnya memenuhi panggilan mamanya, sampai dia lupa belum berpamitan kepada neneknya. Lalu sang kakek melanjutkan berangan-angan di serambi rumahnya ditemani embusan angin semilir melintasi halaman yang tidak luas, yang banyak kehijauan menyegarkan pandangan mata.
