JAKARTA,BERNAS.ID – Resmi tak mengirimkan jamaah haji di tahun 2020 ini, ternyata diakali untuk memperkuat keuangan negara.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Anggito Abimanyu mengatakan, saat ini BPKH memiliki simpanan dalam bentuk dolar Amerika Serikat sebanyak US$600 juta atau setara Rp8,7 triliun kurs Rp14.500 per dolar AS. Dengan begitu, dana itu akan dimanfaatkan untuk membantu Bank Indonesia dalam penguatan kurs rupiah.
Kebijakan tersebut dikritik oleh ekonom senior Rizal Ramli. Menurutnya, pemerintah sudah kehabisan akan dalam menjaga stabilitas keuangannya
“Bener-bener sudah kehabisan ide, Dana Haji dipakai untuk penggunaan beresiko support Rupiah. Payah deh,” kata Rizal Ramli dalam cuitan twitternya @ramlirizal, Rabu (3/6/2020).
Menurut Bang Rizal, sapaan akrab Rizal Ramli, Investasi Dana Haji tidak boleh di portfolio spekulatif, dan beresiko seperti nilai tukar.
“Investasi apapun harus seizin pemilik dana,” ujarnya saat dikonfirmasi ulang Bernas.id.
Sebelumnya seperti dilansir dalam akun Twitter, Rizal Ramli sempat mengkritik pemerintah yang langsung tancap gas menarik utang pada awal 2020.
“Tak tangung-tanggung, jumlahnya mencapai Rp 63,3 triliun. Penguatan Rupiah hasil ?doping? pinjaman. Utang lagi, utang lagi cerdasan dikit kek,” tulis dia, Senin, 13 Januari 2020.(fir)
