Bernas.id ? Setiap pengusaha pasti ingin bisnisnya sukses, apalagi bisa berkembang pesat hingga terbangun cabang-cabang perusahaan tersebut. Oleh karena itu pengusaha pemula akan mencari jalan pintas untuk mencapai kesuksesan, salah satunya dengan membuka usaha sistem franchise. Bisnis franchise atau waralaba merupakan sebuah metode membuka bisnis dengan menggunakan nama, merek dagang, hingga produk dan bahan dari bisnis yang sudah ada. Kemudahan tersebutlah yang sering dimanfaatkan para pengusaha pemula yang pengetahuan di bidang usahanya hanya sebatas untung dan rugi, tidak mengerti manajemen berbisnis. Karena jika membuka bisnis dengan sistem franchise, pelaku usaha tidak memikirkan sistem manajemen, sebab manajemen sudah terbentuk dan tinggal mengikutinya. Selain kemudahan manajemen, brand yang sudah terkenal akan memudahkan proses pemasaran. Pelaku bisnis tidak harus mengenalkan brand, karena brand telah tercipta dan biasanya sudah booming di pasaran.
Namun, selain beberapa keuntungan di atas, membuka usaha secara franchise juga memiliki kelemahan di antaranya sebagai berikut:
1. Dikendalikan Oleh Franchisor
Untuk menjalankan usaha ini mengharuskan seseorang memenuhi syarat tertentu. Franchisor akan menyeleksi calon franchisee atau orang yang akan menjalankan usahanya. Franchisee tidak bebas menentukan sendiri kebijakan-kebijakan perusahaannya tanpa persetujuan franchisor, seperti harga jual, jenis barang yang dijual, dan lain sebagainya. Kebanyakan franchisee sangat tergantung pada kebijakan franchisor. Jadi jika franchisor membuat kesalahan, franchisee akan ikut menanggung dampaknya.
2. Butuh Modal yang Sangat Besar
Untuk memulai bisnis, seorang franchisee harus mengeluarkan modal lebih besar daripada jika membuka bisnis sendiri. Brand yang sudah booming serta sistem manajemen yang telah terbentuk tentunya yang menjadikan usaha franchise butuh modal yang besar. Tidak hanya membayar franchise fee atau jasa-jasa yang didapatkan dan atas penggunaan sistemnya, franchisee atau pelaku bisnis harus membayar royalti fee yang mengurangi gross profit margin serta kontribusi untuk program promosi dalam lingkup yang lebih luas, yang kadang kala dirasa tidak begitu manfaat bagi franchisee secara individual.
3. Bahan Baku Disuplai Dari Franchisor
Dalam bisnis franchise terdapat ketidakbebasan pembelian bahan. Semua atau sebagian bahan baku dipasok oleh franchisor. Artinya pelaku bisnis tidak diperbolehkan mencari suplier lain atau memproduksi bahan sendiri. Dalam bisnis ini biasanya franchisor memiliki tim yang akan melakukan sidak secara berkala untuk memastikan para franchisee tidak melakukan hal yang dilarang, seperti memasok bahan baku sendiri.
4. Program Pelatihan yang Kurang Memuaskan
Sebelum memulai bisnis franchise, seorang franchisee akan dilatih oleh tim tertentu. Namun, karena terbatasnya frekuensi pelatihan menyebabkan seorang franchisee tidak maksimal dalam memahami sistem kerja atau manajemen bisnis tersebut. Restriksi atau tekanan terhadap cara pengelolaan bisnis yang membuat franchisee atau owner tidak bebas. Sehingga bisa mengakibatkan risiko konflik di tengah jalan.
Usaha franchise tidak salah, justru bisa menjadi pengalaman berbisnis bagi pengusaha pemula. Namun, jika mampu menciptakan brand sendiri, kenapa harus menggunakan brand orang lain? Membangun brand hingga booming bukanlah hal yang mudah, memang butuh pengetahuan dan kemampuan khusus serta strategi lebih sukses. Jika kita berhasil menciptakan brand, tidak mustahil untuk menjadi franchisor yang dapat meraup keuntungan lebih besar. Ciptakan brand untuk kesuksesan bisnismu!
