Oleh: Profesor Sudjarwadi
Suatu pagi Yatica masuk rumahnya dari halaman depan sambil menenteng sesuatu. Situtena, suaminya, mengira Yatica membawa makanan tetapi ternyata bukan makanan.
?Yang, ini ada kiriman buku dari pak Eri,? seru Yatica dari kejauhan.
?OK, itu teman dekat saya,? sahut Situtena sambil menuju pintu depan menerima buku dari Yatica.
Ternyata tidak hanya satu buku, ada sepuluh buku. Judul buku tersebut adalah ?MODEL PEMBELAJARAN PAUD BERBASIS BAHARI?.
Situtena segera membuka buku tersebut dan menyimak isinya. Ada sejumlah kalimat dalam kata sambutan yang menarik dan dibaca ulang, yaitu pernyataan bahwa buku tersebut merupakan konsep baru sebagai rintisan yang spesifik. Sebagai rintisan tentu tidak akan langsung sempurna dalam praktiknya.
Buku tersebut secara spesifik menyampaikan kenyataan yang ada di suatu daerah bagian selatan DIY yang mencakup beberapa tempat di Kecamatan Tepus. Gagasan tentang pemanfaatan kondisi lingkungan setempat untuk menciptakan berbagai permainan edukatif yang akan menyuburkan pertumbuhan kemampuan anak-anak usia dini, ditulis dalam buku tersebut.
Dengan keahlian guru-guru PAUD akan dapat diciptakan cerita-cerita menarik bagi anak-anak tentang potensi sumber daya setempat. Potensi setempat adalah karunia Tuhan. Dengan bahasa anak dalam cerita anak-anak , asas Ketuhanan Yang Maha Esa dapat ditumbuhkan dalam diri anak-anak.
Alam adalah sahabat manusia. Guru-guru dapat bercerita dengan bahasa anak usia dini tentang negeri jauh misalnya Korea Selatan, California, yang alamnya tidak sebagus daerah pantai Tepus namun penduduk setempat rajin belajar sehingga dapat membuat daerahnya maju. Asas rajin belajar pangkal pandai dapat disampaikan. Guru dapat membuat cerita indah dan menarik bahwa orang pandai dapat membuat daerahnya menjadi maju. Dapat juga, anak diajak menonton video yang dibuat dengan cermat dan baik.
Sekali lagi digarisbawahi bahwa cerita-cerita dan permainan perlu menggunakan bahasa anak dan disesuaikan dengan kemampuan anak memberi respons terhadap permainan-permainan. Bukan sesuatu yang muluk-muluk ataupun canggih bila dengan bahasa anak mulai dikenalkan klasifikasi sumber daya.
?Kakek sedang baca apa?,? tanya cucu kecil yang tiba-tiba mendatangi kakek Situtena.
?Kakek sedang baca buku sambil memikirkan hubungannya dengan pendidikan anak usia dini?, jawab kakeknya.
?Anak usia dini itu apa Kek?.? tanya cucunya yang kecil, baru kelas tiga SD.
?Anak usia dini, adalah anak yang belum masuk sekolah SD, biasanya sampai usia enam tahun. Kamu sudah kelas tiga SD sudah bukan usia dini lagi,? jawab kakek.
?Oo, aku sekarang tahu kek, aku boleh dengar cerita dari kakek?,? tanya cucunya.
Cucu Situtena kelas tiga SD memang suka bertanya, ingin tahu tentang banyak hal.
?Kalau ingin tahu cerita kakek, duduk manis dekat kakek, mendengarkan cerita dengan baik dan nanti setelah selesai mendengar cerita bantu kakek bersih-bersih kamar bisa?,? permintaan kakek.
?Bisa Kek, aku tadi sudah sekolah lho, sebentar ditemani mama mengerjakan tugas dari ibu guru dengan pakai HP kecil,? sahut cucunya.
?Baik, silakan duduk manis, kakek akan mulai bercerita? kakeknya mempersilakan cucunya duduk.
Di satu daerah bernama kecamatan Tepus ada sejumlah lembaga pendidikan anak usia dini. Ada 30 lembaga, yang 19 ada di daerah pesisir. Di manapun selalu ada orang, sering disebut manusia. Orang hidup di alam dengan lingkungannya. Lingkungan alam yang kelihatan jelas bagi anak usia dini adalah air, tanah, udara, tumbuhan, hewan-hewan, bebatuan, awan di angkasa, matahari, bulan, dan yang khusus pesisir dapat melihat laut, pantai dan ombak.
Di bawah permukaan tanah ada berbagai macam karunia Tuhan juga. Walaupun tidak tampak jelas, anak-anak usia dini dapat diajak membayangkan unsur-unsur di tanah yang diambil oleh sahabat anak bernama pohon pisang, diolah oleh pohon pisang dan daun pisang, menjadi buah pisang. Jadi, pohon pisang adalah pohon yang berjasa bagi manusia dan manusia bekerja sama dengan pohon pisang. Pengertian bahwa pohon pisang dikirimkan oleh Tuhan untuk membuat pisang bagi anak-anak dapat ditanamkan dan dikaitkan dengan kasih sayang Tuhan.
Kekayaan dalam laut yang tidak kelihatan, ikan yang diambil para nelayan, ganggang dan sejenisnya dapat juga diceritakan. Anak-anak dapat diajak berkelana di dunia imajinasi tentang pesisir dan lautan yang memiliki keindahan dan potensi karunia dari Tuhan bagi kepentingan manusia.
Wajib untuk diceritakan bahwa untuk menjemput kiriman Tuhan harus menguasai ilmu, keterampilan, dan sikap. Ingin memanen pisang yang bagus harus pandai memilih bibit pisang yang bagus dan merawatnya dengan benar. Demikian pula, untuk menjemput karunia Tuhan dari pesisir dan laut harus punya alatnya, ilmunya, dan hal-hal lain yang berhubungan. Kemampuan menjemput karunia Tuhan harus dilatih, dipelajari ilmunya.
Dorongan untuk menanamkan pengertian rajin belajar pangkal pandai menjemput karunia Tuhan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk cerita-cerita sambil berjalan-jalan dekat pesisir dan menggunakan bahasa anak-anak usia dini. Bahasa tutur dan bahasa tubuh (body language). Banyak, sangat banyak hal sangat baik dapat ditumbuhkan dalam imajinasi anak-anak usia dini.
Indonesia adalah satu negara yang sekitar 70% wilayahnya adalah laut. Mengantar generasi penerus menjadi andalan penerapan ilmu dan teknologi kelautan bagi kesejahteraan bangsa sangatlah penting. Pengenalan budaya bahari pada masa usia dini tersebut akan membentuk sikap mental anak-anak tentang laut, cita-cita anak-anak mengelola laut. Pendidikan ke masa depan akan menemukan bakat-bakat, renjana (passion), talenta putra-putri bangsa yang bergerak di bidang kelautan, kemaritiman dengan kebahagiaan dan memberi manfaat besar bagi kemajuan bangsa dan negara. Pendidikan adalah untuk masa depan, tidak dapat memberi hasil tiba-tiba. Kita semua sangat mudah memahami bahwa pengelolaan laut Indonesia adalah bagian andalan kemajuan dan penciptaan kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Begitulah inti cerita kakek kepada cucunya dalam bahasa anak SD kelas tiga.
Orientasi membangun budaya bahari sebagai pangkal kemajuan ilmu, teknologi, dan seni pengelolaan bahari perlu segera dimulai dengan makin meluas dan sistematik. Pengalaman adalah guru terbaik. Oleh karena itu, model pembelajaran PAUD berbasis bahari perlu disegerakan disebarluaskan ke pendidikan anak-anak usia dini di wilayah bahari dan juga diteruskan ke muatan lokal tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah.
Cerita kakek kepada cucu selesai. Kakek dan cucu kemudian mulai bersih-bersih kamar kakek dan sesudahnya menikmati pisang goreng yang disajikan nenek Yatica ??
