Berbincang soal busana atau bisnis fashion tak ada habisnya. Bermacam jenis gaya terus berkembang setiap tahun. Jutaan merek, model dan ribuan jenis bahan sudah tercipta. Mulai dari industri besar hingga rumah tangga. Bisnis fashion, rasanya hampir tak pernah mati dan cepat berganti. Tak dapat dipungkiri, produksi ini menciptakan limbah tekstil. Hal ini, adalah salah satu alasan Irma Syafitri menciptakan bisnis fashion yaitu Lemari lawas. “Seperti yang kita ketahui sampah fashion atau limbah tekstil menduduki peringkat kedua terbesar di dunia ya” tandasnya.
Irma adalah salah satu perempuan muda yang berhasil menjalankan bisnis yang tak biasa. Perempuan manis ini, menemukan inspirasi dari barang vintage. Berawal dari pengalamannya saat pergi ke Jepang dan melihat toko-toko barang lawas di pasar. Ia memberanikan diri membangun bisnis. “Saya saat itu keluar dari perusahaan tempat bekerja, jujur saja latar belakang saya teknik fisika tapi ingin mengejar passion” ungkapnya.
Irma memulai bisnisnya tahun 2014 meskipun ia mulai mengurus secara total bisnisnya pada 2016, bersama rekannya Yogi Rahma. Irma memang tertarik dengan barang vintage sejak masih berkuliah di ITB. Hobinya dalam menggunakan barang vintage inilah, yang coba ia tularkan pada teman-teman muda untuk mengurangi limbah tekstil. Sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa menggunakan barang vintage juga salah satu cara untuk peduli lingkungan. “Mulai dengan menggunakan barang vintage kita reuse, resycle, upsycle gitu. Memilih kualitas dibanding kuantitas ini biasa disebut slow fashion” ungkapnya.
Ia dan rekannya memulai bisnis bersama dengan berjualan kecil-kecilan dan membuka toko online lalu memasarkannya lewat sosial media. Awalnya, Irma menjual tas vintage kemudian berkembang menjual kain dan kebaya vintage. Ia mengambil hampir seluruh kebaya vintage, di Indonesia terutama di Jawa Tengah.

Pada saat membangun bisnis ini, Irma mengaku memang berniat untuk menjual barang second selain karena ingin mengurangi limbah tekstil yang sudah terlalu menumpuk, Ia juga ingin teman-teman muda mulai melirik kebaya vintage. “Saya menjual barang-barang ini selain karena ingin berbisnis, juga ingin mengurangi fast fashion dan mengajak teman-teman paling tidak mencoba slow fashion dan bangga menggunakan kebaya vintage atau lawas” ujarnya.
Perjalanan bisnis fashion Irma dan rekannya Yogi Rahma rupanya disambut baik. Niat baik dan nilai yang ingin ia tanamkan dalam bisnis fashion ini membuahkan hasil. Berawal dari unggahan foto-foto kebaya vintage di Instagram. Foto tersebut menunjukkan kesan kebaya vintage atau lawas juga cocok digunakan sehari-hari. Irma Ingin mengubah kesan bahwa kebaya vintage adalah pakaian kuno atau hanya pantas digunakan saat pesta. Produknya berhasil mematahkan perspektif ini dan akhirnya dapat dilihat oleh para aktris muda Indonesia.
Beberapa aktris Indonesia seperti Tara Basro, Hannah Al rashid, Laura Basuki, Asmara Abigail bahkan Eva Celia Latjuba membeli produknya. Mereka juga tak segan mengunggah foto kreasi tata busana masa kini dengan tetap mengenakan kebaya vintage. Ada juga yang mengenakannya dengan kain batik vintage. Irma mengaku sangat mengapresiasi hal ini karena dengan begitu banyak teman-teman muda yang akhirnya memiliki referensi juga terinspirasi untuk memulai slow fashion dan juga menggunakan kebaya vintage.
Pesan Irma Syafitri kepada teman-teman muda yang ingin menjalankan bisnis fashion atau bidang apapun bahwa jangan takut untuk memulai. Ia juga mengatakan bahwa setiap bisnis harus memiliki value untuk kehidupan yang lebih baik. Asah terus kemampuan dan beradaptasi dengan sekitar. Jangan lupa untuk bangga dengan apa yang kita miliki.
